life, shots, story, travel

Tujuh

Maret atau April tahun 2016 lalu aku dan tim ku sekantor bepergian ke Lombok dan sempat menghabiskan satu hari di Gili Trawangan.

Setelah kembali Jakarta dan mendekati libur lebaran aku kepikiran untuk kembali ke Gili Trawangan. Karena penasaran ingin bermalam disana, coba diving, dan sebagainya yang tidak sempat dicoba sebelumnya.

Ketika browsing mencari informasi penginapan, entah bagaimana tiba-tiba aku  terdampar di sebuah blog perempuan asing berumur 40-an yang berisikan catatan perjalanannya mendaki Gunung Agung di Bali.

Aku bahkan sudah tidak ingat alamat situs perempuan tersebut. Yang kuingat adalah pendakian tersebut merupakan pendakian pertamanya dan beberapa karakter perempuan tersebut merupakan karakterku juga (ketika itu); mengatakan tidak pada banyak hal dan kebanyakan rasa takut.

Singkatnya, pendakian dia sukses. Oh, dia mendaki berdua dengan teman perempuannya dan ditemani guide — yang kata si perempuan tersebut berjalan sangat cepat dan cenderung meninggalkan mereka sepanjang pendakian.

Aku ingat betul reaksiku setelah membaca catatan perjalanan tersebut: kalau perempuan tersebut saja bisa maka aku pun bisa.

Seketika itu juga aku lupa semua motivasi ingin liburan ke Gilis.

Jadi, pada Mei 2016 lalu aku melakukan pendakian pertama kali dalam hidup di Gunung Agung, Bali. Meskipun tidak mencapai puncak utama tapi merupakan pengalaman yang tidak bisa dilupakan.

Sekarang, April 2017, total sudah 6 gunung yang pernah ku daki:

  • Gunung Agung, Bali
  • Gunung Papandayan, Garut
  • Gunung Prau, Dataran Tinggi Dieng
  • Gunung Merbabu, Boyolali, Solo
  • Gunung Slamet, Tegal – Purwokerto, dan
  • Gunung Pusuk Buhit di Samosir, Sumatera Utara

Dan akhir pekan lalu, April 21-23 2017, aku baru saja mendaki Gunung Slamet untuk kedua kalinya.

Jadi dalam setahun terakhir aku berubah dari orang yang tidak pernah kepikiran untuk naik gunung menjadi pecandu berat. Tujuh kali naik gunung dalam satu tahun. Dan gunung yang paling berat, sejauh ini, didaki dua kali. Haha.

Ada beberapa gunung lagi yang akan aku daki sebelum pensiun: Rinjani, Kerinci, dan Annapurna basecamp. Setelah itu mungkin cari kecanduan baru lagi.

Di puncak Gunung Slamet, untuk kedua kalinya.

Di puncak Gunung Slamet, untuk kedua kalinya.

Standard
Gunung Prau, Dieng, Oktober 2016

Gunung Prau, Dieng, Oktober 2016

life, travel

Gunung Prau, Dieng

Image
random

Indera

segala aspek yang melibatkan penggunaan indera bisa kita gunakan untuk memunculkan kembali episode-episode di masa lalu.

gw ingat betul pernah kenal dengan seorang perempuan melalui IRC, dan ternyata dia tinggal di dekat kos semasa kuliah di Baranangsiang, Bogor. suatu kali dia pernah main ke kos dan membawa USB berisikan album Saosin.

satu dekade kemudian gw masih dengar lagu di album tersebut dan tiap kali lagu-lagu tersebut terdengar gw ga bisa menghindari episode ketika gw diekspose ke band bernama Saosin oleh perempuan yang gw kenal melalui IRC dan ternyata tinggal di dekat kos.

selain pendengaran, penglihatan jg bisa memicu episode tersebut muncul ke permukaan. browsing foto di instagram, dan melihat foto lama, misalnya, bisa langsung muncul adegan yang menceritakan kenapa foto itu bisa diambil, dengan siapa saat foto itu diambil, bagaimana situasinya, bagaimana perasaan saat itu, kenapa kita ada di sana, dan sebagainya.

indera menjadi jalur transportasi katalis (gambar, bau, suara) yang membantu menemukan kembali episode yang sudah lalu.

mungkin pernah juga kita mencium wangi seseorang dan kita jadi ingat betul segala hal tentang orang tersebut; apa yang membuat dia istimewa, apa yang membuat dia kecewa, apa yang bisa membuat dia bahagia, dan sebagainya

Standard
life, shots, travel

Gunung Papandayan

Saya, teman kantor, dan temannya teman kantor camping di Gunung Papandayan pada akhir Juli 2016 lalu.

Gunung Cikurai dilihat dari atas Hutan Mati

Gunung Cikurai dilihat dari atas Hutan Mati

Sudah sangat banyak artikel di Internet mengenai perjalanan di Gunung Papandayan. Jadi sepertinya saya tidak perlu mengulang-ulang hal yang sama. Satu hal yang perlu digarisbawahi adalah: suhu di gunung ini teramat sangat dingin.

Sayangnya kami tidak membawa thermometer jadi tidak ada bukti untuk menunjukkan seberapa dinginnya malam itu. Untuk memberikan gambaran kira-kira seperti ini:

  • saya rajin berolahraga dan secara khusus mempersiapkan diri untuk naik gunung
  • malam itu saya pakai kaos yang lumayan tebal sebanyak 4 lapis dan dilapisi jaket di bagian terluar
  • saya tidur di dalam sleeping bag yang lumayan tebal dan menutup seluruh tubuh
  • kami tidur di dalam tenda, bertiga

Kalau ditotal mungkin saya cuma berhasil tidur selama 2 jam. Sisanya serasa bukan tidur karena tidak terlelap. Yang dirasakan hanya dingin dan tangan terasa kaku di dalam sleeping bag.

Oh, seperti yang lain, kami berkemah di Pondok Seladah.

Kira-kira jam 5 pagi sudah mulai terdengar keramaian oleh mereka yang ingin menuju Tegal Alun. Sejujurnya saya ingin istirahat dan tidur saja karena merasa kurang tidur dan tidak cukup yakin bisa sampai puncak. Tapi karena semua teman-teman sepakat untuk pergi maka saya pun memutuskan untuk ikut.

Singkat cerita saya sampai di puncak lebih dulu. Meninggalkan teman-teman yang lain. Mungkin karena langkah kaki saya yang lebih panjang. Ternyata waktu tempuh dari Pondok Seladah ke puncak (Tegal Alun) tidak terlalu lama; kira-kira 30 sampai 45 menit. Cukup melelahkan dan membuat putus asa tapi sepertinya hampir semua perjalanan menuju puncak seperti itu. Intinya tetap melangkah saja walau perlahan sekalipun.

Tegal Alun

Tegal Alun

Tegal Alun bisa dikatakan puncak Gunung Papandayan walau nyatanya ada bukit lagi di atasnya.

Demikian pengalaman naik ke Gunung Papandayan. Gunung ke-2 yang pernah saya daki dan pengalaman camping di alam bebas pertama.

Berikutnya: Gunung Prau.

Standard
Bukti Merese, Lombok, Nusa Tenggara Barat

Bukti Merese, Lombok, Nusa Tenggara Barat

life

Bukit Merese, Lombok, Nusa Tenggara Barat

Image