movie, review

Rumah Dara (Macabre): a review

“Disturbingly entertaining till the very last drop of blood” adalah kalimat yang paling tepat untuk mewakili film ini. Bukan tanpa alasan.

Judul: Rumah Dara
Sutradara: MO Brothers (Timothy Tjahjanto dan Kimo Stamboel)
Produser: Delon Tio (Nation Pictures and Merah Production)
Genre: Action Survival Thriller
Rate: 4.5 out of 5

Rumah Dara (Macabre) www.rumahdara.com

Rumah Dara (Macabre) www.rumahdara.com

Film ini menceritakan pengalaman enam orang muda-mudi: Ladya, Adjie, Astrid, Alam, Eko, dan Jimmy. Astrid adalah ibu hamil yang merupakan istri Adjie. Sedangkan Ladya adalah saudari dari Adjie. Cerita bermula di sebuah cafe di Bandung ketika Adjie akan pamit ke Ladya karena akan pindah ke Australia. Saat akan pulang ke Jakarta, mobil mereka ‘dicegat’ seorang perempuan bernama Maya. Cuaca buruk membuat keenamnya memutuskan untuk membantu mengantar Maya pulang ke rumahnya, ke Rumah Dara.

Jujur aja gw bukan penggila film, baik itu film lokal maupun internasional. Gw cenderung menonton film berdasarkan review orang lain. Begitu juga yang terjadi ketika gw melihat hype yang muncul di Kaskus dan Twitter untuk film Rumah Dara ini.

“Sebagus apa sih film ini?” adalah kalimat pertama yang terlintas dipikiran ketika film mulai diputar. Yang ternyata gw dapat jawabannya setelah keenam tokoh film ini masuk ke dalam Rumah Dara, titik pusat lingkaran setan.

Film ini serasa punya tangan yang menahan hidung dan mulut penontonnya sehingga susah untuk bernafas, sekaligus menyuntikkan kengerian dengan dosis yang terus meningkat secara perlahan dan konstan. Membawa penontonnya menduga-duga, bertanya ke diri sendiri: “habis ini pakai alat apa lagi yah?”

Selain deretan artis terkenal, ada dua-setengah VJ MTV (Arifin sempat mengikuti MTV VJ Hunt, tapi dikalahkan oleh Daniel) yang tampil dengan akting memuaskan. Khususnya Arifin yang berperan sebagai Adam, sang tokoh antagonis, dirinya berhasil membawa citra pembunuh berdarah dingin sesungguhnya. Benar-benar mengingatkan kita ke tokoh Hannibal Lecter muda di Hannibal Rising (2007): kalem, mematikan, emotion-less.

Shareefa Daanish sebagai pemeran tokoh Dara mendapatkan penghargaan Aktris Terbaik di PiFan (Puchon International Fantastic Film Festival) untuk film ini, jadi tak perlu diragukan lagi level ekstrim-nya.

Kalau kalian seperti gw yang suka menebak alur dan sebab-akibat, kalian akan puas sekali (at least i did), karena film ini benar-benar tak terduga. Sutradara dan penulis cerita-nya berhasil memprediksi dan memanipulasi pikiran penonton. Membimbing kita melalui labirin dengan tembok yang penuh darah dan teror.

Meskipun film yang begitu menarik ini sarat dengan sensor, gw ga cukup insane untuk melewati teror yang disajikan dua kali. I’ve had enough of it. Biarlah gw menunggu rilisan terbaru mereka, yang katanya akan rilis di tahun ini juga.

Sebuah simbolisasi yang gw tangkap di film ini, yang menjadi pelajaran utama, adalah mahalnya harga yang harus dibayar untuk sebuah kehidupan. Film ini juga mengingatkan gw untuk menghargai deadline. Oke, yang terakhir ini bukan excuse gw doang. Kalian akan mengerti kenapa ‘menghargai deadline’ menjadi pelajaran yang cukup penting setelah menonton film ini.

Cheers.

Standard