artwork, music

Diantara Die-hard fans, KOIL, dan Konser Metal Terbesar yang juga terbecek!

Diudag!

Diudag! (artinya: dikejar, diuber)

Setelah 2 tahun lamanya tidak melihat KOIL manggung secara langsung, akhirnya gw putuskan pergi ke Bandung untuk menyaksikan mereka di Konser Metal Terbesar (disponsori LA Lights) yang diadakan hari Minggu, 28 Maret 2010 lalu di Lapangan Saparua, Bandung.

Disclaimer: post kali ini berisi banyak sekali foto-foto yang gw ambil selama di Bandung. I’ve warned you :)

Continue reading

Standard
artwork, music

Burgerkill

“Tuhan, aku ingin mati.”

Permintaan yang jauh dari kata absurd. Relatif total ke sudut yang memandang dan konteks dibalik permintaan itu sendiri. Begitulah potongan lirik dari lagu (kalau ga mau dibilang “sampah”) dengan judul Berkarat dari Burgerkill.

Burgerkill bukan nama baru, khususnya bila dibandingkan dengan band antah-berantah yang lahir dari suksesnya komersialisasi metal berasaskan selera pasar. Burgerkill ini layaknya pria paruh baya pengidap depresif akut, eks-militer, kombinasi kumis tebal muka sangar, yang sanggup bertahan hidup ditengah kerasnya hutan dengan minimnya sumber daya hanya bermodalkan passion dan hope.

Ah … dan nada gw pun mulai terdengar sok tahu. Arahkan browser-mu menuju halaman ini: Burgerkill Biography untuk mengetahui kilas perjalanan mereka.

Sejujurnya, gw bukan pecinta genre musik sejenis Burgerkill. Hanya saja beberapa waktu lalu seorang teman gw memuji kualitas gitaris Burgerkill. Dan sejak saat itu, entah kenapa, nama Burgerkill ini sering mencuat ke pikiran. Hingga akhirnya gw memutuskan untuk mencoba download salah satu lagu mereka dari album yang berjudul sama: Beyond Coma and Despair.

Seperti yang sudah gw bilang, Burgerkill bukan nama baru. Gw tahu nama ini sejak SMU, kira-kira 2001 ke 2004 lalu. Saat itu merupakan masa keemasan Hip Metal dan Nu Metal di lingkungan gw, bukan Hard Core Metal yang digusung Burgerkill. Entah bagaimana, saat itu gw sempat mencicipi sedikit aroma Burgerkill, dan langsung ingin muntah setelahnya.

Tapi sekarang sudah beda. Telinga, perasaan, dan kemampuan untuk melihat sesuatu dibalik barisan lirik sudah agak terasah. Burgerkill ini semenarik Burger King dan Burger Blenger, hanya beda indera perasa saja. Yang satu telinga, lainnya lidah. Semua indah pada saatnya, kurasa.

Menyempatkan diri menikmati artwork yang apik di situs ofisial mereka Burgerkill Official, dan informasi tour mereka di Burgerkill MySpace menjadi makanan penutup. Banyak informasi untuk lebih tahu tentang Burgerkill ada di situs tersebut, sebuah usaha yang baik sekali untuk publikasi dengan online media.

Ah ya! Maaf. Gw ga punya kapasitas untuk membicarakan musikalitas mereka secara teknis. Gw bukan musisi, cuma seorang pecundang kalem yang menghabiskan bandwith dengan menikmati lagu-lagu gratisan yang bertebaran di antero internet.

Mungkin itu saja dari gw seputar informasi tentang Burgerkill. Sebuah band, yang gw amat ragu lagunya akan kalian pasang sebagai NSP. Haha.

Sebagai penutup, gw sajikan lirik lengkap lagu Berkarat dan cover album Beyond Coma and Despair.

Berkarat – Burgerkill

Berkarat, diriku ini hitam berkarat
Terlaknat, ku kencani malaikat maut
Terasing dalam kumpulanku
Terhanyut dalam khayalanku
Tuhan .. Aku .. Ingin .. Mati !
Akankah datang sepasang tangan
Merangkulku terbang pulang
Akankah datang seorang teman
Menuntunku menuju cahaya
Berkarat, diriku ini hitam berkarat
Terlaknat, kan kutunggu datangnya maut
Lelah tubuh ini, Sesak raga ini
Lelahnya sisi kecil hati
Ikuti alur hidupku mencoba melawan dosa yang terlahir
Luaskan ruang bernafas
Terlaknat.. tuhan aku ingin mati
Kan kutunggu datangnya maut

Burgerkill - Beyond Coma and Despair

Burgerkill - Beyond Coma and Despair

Standard