lesson learned, life

Untitled

Beberapa minggu yang lalu, gw makan malam di sebuah rumah makan Padang dekat kantor. Sambil menikmati makan malam, gw mengamati para pegawai rumah makan yang duduk menatap layar televisi, yang saat itu kanal TPI. Sesaat perhatian gw pindah ke televisi dan merasa déjà vu karena film yang ditayangkan sedikit-banyak mirip Avatar (James Cameron and his crew, 2009).

Film itu berjudul ‘Petualangan Bersama Suku Biru’ (PBSB) yang, segi cerita maupun visualisasi tokohnya, memang mirip Avatar. Gw kecewa, dan mikir “Kok ya kita tuh ga bisa berhenti njiplak. Dah njiplak, jelek pula hasilnya”.

Gw langsung pulang setelah makan malam gw habis.

Keesokan harinya gw menemukan sebuah link di twitter, Bellamy: Why Indonesia Won’t Beat Any Country Anytime Soon in Creativity, yang isinya, sesuai interpretasi gw, merupakan interpretasi bebas menghubungkan tingkat kreatifitas manusia di negara ini berdasarkan film ‘Avatar KW-2’ a.k.a PBSB.

Tak hanya itu, sesampainya di kantor ada beberapa rekan kerja yang sempat membahas film PBSB. Ternyata mereka membaca sebuah thread di Kaskus. Kok malah populer yah :D

Entah kenapa komentar-komentar yang muncul, yang disebabkan film PBSB ini, pedas banget. Apa iya memberi komentar yang begitu pedas merupakan salah satu bentuk aktualisasi diri, atau bahkan, intelektualitas? Gw rasa sih ngga.

Avatar yang super mewah itu dari awal sudah direncanakan tidak ditujukan untuk semua orang. Tidak berusaha untuk membahagiakan semua orang. Avatar adalah barang produksi sebuah industri yang sudah pasti punya target viewer yang jelas: masyarakat yang mampu nonton di bioskop kelas atas (yang bisa menikmati suasanya nyaman dan bangku empuk Blitz disertai popcorn dan pacar cantik dengan rok-mini, oh, okay, segment begini terlalu sempit. you get the idea).

Begitu juga dengan PBSB. Film ini ga berusaha untuk membahagiakan semua orang. BIG NO. PBSB ini tahu betul posisi mereka sejak mereka memutuskan ‘menjiplak’.

Pada saat gw melihat film PBSB, gw kecewa. Tapi ga lebih dari itu. Kenapa? Karena dengan film itu banyak orang bisa melanjutkan hidup (katakanlah kru film dan keluarga mereka), dan lebih banyak lagi yang bisa terhibur: seantero penonton TPI dan kru rumah makan Padang tempat gw makan malam.

Come on, people. Coba deh, sesekali berpikir di luar dari sudut pandangmu. Tempatkan dirimu di orang lain. Di kelompok lain.

Some people is not as much as lucky as we are, like I am not as much as lucky as you.

Gw bukan mencoba membela sisi jiplak-menjiplaknya. Itu benar-benar tidak kreatif. Yang salah tetap salah. Yang jelek tetap jelek. Tetapi, berusaha terlihat benar hanya dari satu sudut pandang, menurut gw kurang tepat. Apalagi dengan komentar negatif yang hanya mampu mematikan kreatifitas itu sendiri. Ask yourself.

ps:
I entitled the note with ‘Untitled’ in a purpose: to show you guys that I lack the creativity itself. Well, shame on me then.

Standard