lesson learned, life, work

Kembali ke Bali

Hari ke-3 disini, jatuh sakit. Flu yang lumayan berat, mungkin karena kecapean.

Siang tadi pihak pengiriman barang menghubungi, katanya motorku sudah tiba. Disini sangat sulit untuk bepergian jika tidak punya kendaraan pribadi — satu hal yang sangat kusadari saat kali pertama tinggal disini, setahun yang lalu. Awalnya sempat kuurungkan niat untuk kirim motor, tapi setelah dapat rekomendasi kiri-kanan akhirnya kukirim juga. Keputusan yang sangat ku-syukuri saat ini.

Meski baru tiga hari, perjalananku sudah lebih jauh dibandingkan terakhir kali tinggal disini. Kemarin, misalnya, sudah ke Ubud. Rencananya kami akan bekerja disana. Ubud sangat menarik karena sejuk. Bisa dibayangkan kalau malam datang, pasti dingin.

Malam minggu dihabiskan keliling seputaran Renon untuk cari tempat tinggal. Hanya butuh dua kali bertanya sebelum mendapatkan tempat tinggal yang nyaman. Memang beruntung sekali punya teman yang tahu seluk-beluk Bali dan punya segudang info tentang kamar kontrakan.

Hari ini, setelah jemput motor, hanya bisa terkapar. Meriang, hidung basah, pusing. Lengkap. Malam ini sudah agak mendingan. Sepertinya butuh banyak istirahat.

Standard
story

Last Night

Last night.
Can’t remember.
What happened, when we go.

I woke up this morning.
Where’s my car?
Where’s my key?
Where’s my clothes?

Good Charlotte – Last Night

Yeah. Can’t really remember what happened.

I’m back in town. Jakarta. Already left Bali by the end of February 2011. I know, this is exhaustive. I did exhausted. But I also really hoped I made best decision for my future.

It’s not just Bali that I left behind, I left a lot of friends I barely knew. Whom most of them are really good person. Man, I’ve just spent two months there. Been hitting no-where too. Shit-on-me, but I spent most of my time in front of the laptop.

Eventhough I was there for only a short amount of time but I did grateful for it. Bali is super-duper nice. Especially: Sanur. I love that place. I will definitely back someday. Continue reading

Standard
life, travel

Ticket to ride

“Eh … gw pengen banget lho kerja dan tinggal di luar Jawa atau Sumatera” kata gw ke pacar

“Irian Jaya, Timor-timor, Kalimantan….”
“…kemana aja lah yang penting diluar pulau ini. Pengen tahu aja gimana rasanya kerja dan tinggal di daerah lain” sambung gw.

Gw lupa kapan (dan ke pacar yang mana) statement itu gw kemukakan. Yang pasti sudah lama banget.

Bukan karena pacar gw banyak sampai bisa lupa detail obrolan waktu itu. Hanya saja, tampaknya, gw sudah terlalu lama membiarkan diri terlena dengan ritme kerja (dan hidup) di Jakarta. Sampai akhirnya terlupakanlah hal yang sempat ingin dilakukan.

Tapi ternyata hidup menyisakan tiket buat gw untuk menjemput keinginan (yang sempat terlupakan) tersebut. Beberapa bulan lalu gw coba apply ke sebuah perusahaan yang berpusat di Bali, dan diterima. This is a chance of a lifetime. Now or fever…ehh never.

And, hell yes! Now I live and work in Bali. Continue reading

Standard