life, movie, music, random, work

Updates

Belakangan hidup semakin berantakan. Semakin ga karuan.

Beberapa kali nonton televisi, semakin ga jelas. Semua isinya korea, korea, dan korea. Mending kalau bagus lagunya — entah deh layak dibilang lagu apa bukan. Industri hiburan sukses sekali menggeser selera musik ke arah korea.

Anyway, selain kerja, hidup gw diisi dengan hal-hal semacam buku, musik, bioskop, dan film seri. Berikut ini daftar konsumsi gw, kali aja ada yang baca dan butuh rekomendasi personal. Enjoy:

Buku

  • Danur – Risa Saraswati (7/10)
  • Edisi Kecap Dapur: 40 Tahun Tempo (1971 – 2011) – Tempo. skor: 9/10
  • Rework – 37Signal (10/10)
  • Partikel – Dewi Dee Lestari (on-going)
  • Joker – Valiant Budi Yogi (Vabyo) (5/10)

Musik

  • Saint Loco, Momentum (8/10)
  • Saosin, Self Titled (10/10)
  • Aftercoma, Breathless (9/10)
  • Dialog Dini Hari, Self Titled (8/10)
  • Tulus, Self Titled (9/10)
  • Daft Punk, Discovery (10/10)
  • Bring Me The Horizon, There Is A Hell Believe Me I’ve Seen It. There Is A Heaven Let’s Keep It A Secret (10/10)
  • Foster The People, Torches (9/10)
  • Fable, Self Title (on-going)

Movies

  • John Carter 9/10
  • The Raid 4/10 (cerita), 10/10 (action)
  • Battleship 9/10
  • 21 Jump Street (9/10)

Series

  • Revenge 7/10
  • American Horror Story 9/10
  • Touch 6/10
  • Firefly (2002) 9/10

Kalau ada yang tertarik dan butuh in-depth review, silahkan request.

Aha. Now i know where’re all those money gone :P

Standard
lesson learned, life, love, notes, work

End of 2011

I can’t recall the last time I spent my new year eve with my parents. It is sad that I don’t miss them that much. I wanted to be there, but I don’t have tendencies to do so. -_-”

It is the last night of 2011. Eight o’clock sharp, as I’m writing this post. I had no one asking me out. Had no where to go. No gig to hit. No whatsoever. I am totally on my own.

This is a bad year. (Though, I must admit that 2010 is worst ever.) Few remarkable things:
1. three times switch jobs
2. ex-es got married
3. being an ignorant single for the whole year

Gosh.

But anyway, I also met with a whole lots of new people this year. Friends and enemies that I met, I’m glad to met you people. Thanks for shaping me up.

One thing I regret is my decision to go back to Jakarta. I should have stayed in Bali. Fyi, I only stayed there for two months. And those two months was spent working. That’s what I’m regretting the most. But yeah, I know. Things happened for reason. I should go there next year, for holiday.

As for the ex-es. I can’t imagine how happy they’re right now, with their new family. I hope they really are.

Talking about jobs. No, not job actually. I met with this guy on twitter, he offered me a job. I took the chance and get back to Jakarta and joined the company. This, Balinese guy, I personally respect him. He is an ignorant bastard who talked very big, but also a freakin genius. His attitude is at his worse. But on the otherhand he is the most responsible team leader I’ve ever met. Salute for you, bro. You know who you are.

At almost the same moment, within the same company, I also met an ‘enemy’. It’s not an enemy actually. It’s just, different people came up with different agenda, and me decided to stepped back. I did wrote a post about this. Lets skip this.

About being single. I had no idea. Really had no idea.

To wrap it all up. I wish all you people a happy new year. Lets hope for the best and prepare for the worst. Yeeehaaaw.

Standard
lesson learned, life, work

Rebel

Dalam banyak kesempatan menghadapi konflik, saya punya kecenderungan untuk diam dan mundur. Saya malas debat kusir tiada akhir. Tidak akan ada solusi disitu. Toh, konflik muncul karena pada dasarnya tiap orang punya agenda masing-masing.

Saya tentu saja bisa salah. Dan, kalau salah, saya pastikan bisa menerima koreksi. Hanya saja, tolong berikan koreksi yang masuk akal. Bukan sejumlah argumen yang dibuat atas dasar subyektifitas dan susah dibuktikan.

Kita berada dalam lingkungan orang-orang teknis yang berpikiran logis. Konflik sebaiknya diselesaikan dengan logik bukan politik.

Reaksi ada karena aksi.

Saya akui bahwa saya adalah pemberontak. Dan saya yakin naluri pemberontak ada pada tiap orang. Yang membedakan hanyalah cara mengekspresikannya dan sejauh mana kita berani memperjuangkan hal yang kita yakini — dengan segala konsekuensinya.

Pemberontakan punya alasan. Punya dasar. Dan perlu digarisbawahi, pemberontakan versi saya bukan semata-mata agar segala hal diwujudkan dengan cara saya. BIG NO. Kalau saya cuma mau memuaskan keinginan sendiri, apa bedanya dengan masturbasi?

Saya idealis tapi realistis.

Terlepas dari itu, tak terasa sudah tujuh bulan saya bergabung di tim pengembang. Dan selama itu, suka atau tidak, kita saling mengobservasi satu sama lain. Saling mendegarkan pujian dan keluhan. Saling merekam aksi dan reaksi. Dan mencatat semuanya menjadi poin-poin penilaian, demi objektifitas.

Dan, pada akhirnya, tanggal 20 nanti adalah hari terakhir saya disini. Pemberontakan saya gagal total. Karena tampaknya hanya saya yang gaya pemberontakannya ekspresif.

Sebagai penutup. Pemberontakan saya jadi terkesan culun di atas kertas. Tulisan ini bukan dibuat untuk diskredit siapapun. Semua hal yang layak saya kenang, layak dibuatkan blog post.

Cheers without beers,
Leonardo (Oct 12 2011)

Standard