lesson learned, life

Kuta, Geekssmile, and being grateful

Malam ini memutuskan menginap di villa yang merangkap tempat kerja. Awalnya kemari cuma niat untuk renang dan upload video hasil rekaman live Geekssmile kemarin malam di Kuta — ada tiga video dan masing-masing hampir 60 megabytes, sulit kalau mengharapkan koneksi wireless 3G.

Well. Somehow merasa bersyukur sekali bisa dapat pengalaman kekgini. Maksudnya, kerja di tempat setenang dan se-adem ini. Dapet temen orang asing dari displin berbeda yang juga asik personalnya.

Experience is expensive. That’s what l learned tonight.

Standard
lesson learned, life, work

Kembali ke Bali

Hari ke-3 disini, jatuh sakit. Flu yang lumayan berat, mungkin karena kecapean.

Siang tadi pihak pengiriman barang menghubungi, katanya motorku sudah tiba. Disini sangat sulit untuk bepergian jika tidak punya kendaraan pribadi — satu hal yang sangat kusadari saat kali pertama tinggal disini, setahun yang lalu. Awalnya sempat kuurungkan niat untuk kirim motor, tapi setelah dapat rekomendasi kiri-kanan akhirnya kukirim juga. Keputusan yang sangat ku-syukuri saat ini.

Meski baru tiga hari, perjalananku sudah lebih jauh dibandingkan terakhir kali tinggal disini. Kemarin, misalnya, sudah ke Ubud. Rencananya kami akan bekerja disana. Ubud sangat menarik karena sejuk. Bisa dibayangkan kalau malam datang, pasti dingin.

Malam minggu dihabiskan keliling seputaran Renon untuk cari tempat tinggal. Hanya butuh dua kali bertanya sebelum mendapatkan tempat tinggal yang nyaman. Memang beruntung sekali punya teman yang tahu seluk-beluk Bali dan punya segudang info tentang kamar kontrakan.

Hari ini, setelah jemput motor, hanya bisa terkapar. Meriang, hidung basah, pusing. Lengkap. Malam ini sudah agak mendingan. Sepertinya butuh banyak istirahat.

Standard
lesson learned, random, technology

Debian

It’s 4 AM. Have just wrapped my very first experience installing Debian OS which turns out total fail.

Perhaps I did it all wrong.

Earlier yesterday at the office I downloaded an image of the 1st dvd of the OS. I *assumed* that’s the minimum I should have to get Debian with GUI running.

The other problem was my dvd reader; it’s not helpful at all. It think I need to get a replacement.

Well anyway it’s not a total failure. I managed to have Debian running…headless.

You heard me: headless.
No GUI. No whatever.

I think I’m gonna do another attempt next week. Gotta buy an external dvd reader and download all those +/- 6 dvds.

Standard
lesson learned, life, music

SISTAR – Jika Memang

S.I.S.T.A.R. – Jika Memang
Facebook: https://www.facebook.com/sistarmusic
2011

First of all; ini bukan Sistar — girl band asal Korea ituh. Band ini dibuat oleh sekumpulan anak muda Bandung. Gw tahu band ini karena (kebetulan) gitarisnya adalah temanku semasa SMU dulu.

Sayangnya proyek S.I.S.T.A.R ini terhenti tanpa alasan jelas. Padahal demo mereka dan beberapa lagu mereka yang mau (maupun sudah) dirilis keren-keren banget. “Keren banget” dalam artian selera anak muda yang dilanda jatuh cinta dan pergalauan. Haha.

Pohon rubuh di tengah hutan, ga akan ada yang tahu. Sama seperti lagu bagus ini, tanpa marketing ga ada yang tahu dan ga laku. Sayang sekali.

Well anyway, enjoy it as much as I do. Cheers.

Standard