lesson learned, life, Tips, work

Employee Stock Options Plan ESOP

Odi bilang liat ini saja

Gw coba “terjemahkan” isi tweet yang direferensikan Odi ya.

Tapi kita mundur agak jauh dulu supaya semua satu halaman.

Kita pahami dua hal dulu:

  1. stock = kepemilikan perusahaan
  2. stock options, dari Investopedia:
    A stock option gives an investor the right, but not the obligation, to buy or sell a stock at an agreed upon price and date.

Ketika mau bergabung ke perusahaan, umumnya kita juga ditawari stock (atau saham).

Jadi ada beberapa skenario kita ditawari saham:

  1. kita minta gaji di atas budget perusahaan, perusahaan tawarkan kepemilikan saham sebagai alternatif
  2. kita sangat kompeten, kontribusi berdampak ke perusahaan, dapet gaji sesuai kemauan kita. perusahaan akan tawarkan saham jg supaya ga pindah (retention)
  3. dll

Nah, lalu kenapa Odi di atas menolak stock?

Situasinya gini. Kita dah jenuh nih, atau dapet tawaran bagus dari tempat lain, atau tiba-tiba atasan lo ngehek bukan main. Dan mau resign aja.

Itu kepemilikan saham yang kita miliki ga bisa dijual kalau ga ada yang mau beli.

Kok bisa?

Baca sekali lagi soal stock options:

A stock option gives an investor the right, but not the obligation, to buy or sell a stock at an agreed upon price and date.

Investor (atau, dalam hal ini, perusahaan) ga punya keharusan juga untuk beli. Apalagi kalau duit perusahaan lagi tiris. 🙃

Lah trus?

Itu kenapa @awd bilang kalau perusahaan belum IPO bakal susah menjual kembali saham yang kita miliki.

Bentar, apa itu IPO?

Dari Investopedia (lagi):

IPO = Initial Public Offering
An initial public offering (IPO) refers to the process of offering shares of a private corporation to the public in a new stock issuance.

Artinya, sebuah perusahaan secara sah memperjual-belikan saham (kepemilikan perusahaannya) secara publik.

Yang artinya kalau perusahaan sudah IPO maka peluang kita menjual saham yang kita miliki masih terbuka. Terbuka, belum tentu bisa terjual juga. Ingat: hanya bisa jual sesuatu kalau ada yang mau beli.

Khususnya untuk skena Indonesia, gw setuju sih untuk condong ke perbanyak gaji aja dibanding kepemilikan saham.

Karena kepemilikan saham ga bisa buat beli popok dan susu anak kalian nanti.

Tapi ada sisi positifnya juga punya saham (atau bermain saham). kalau valuasi (nilai perusahaan) naik, maka nilai saham kita naik, maka “harta” kita di atas kertas juga naik. dan ini harta yang non-taxable karena belum direalisasikan. Tergantung regulasi. Tapi kalau ga salahhh di regulasi kita hanya ketika kita konversi saham kita jadi duit (melalui proses penjualan), baru deh kita berkewajiban buat melaporkan dan menyetorkan pajaknya.

Terakhir, kalau pun memutuskan dikasih saham. tanya berapa persen itu kamu dikasih. supaya kamu dapat gambaran utuh berapa total harga dan valuasi perusahaan. dan berapa perusahaan tsb menghargai kamu hahahha. Karena biasanya cuma dikasih tahu dikasih berapa lembar, tapi ga dikasih tahu berapa persen. Misalnya kamu dikasih 100rb lembar saham oleh perusahaan. Yang tidak kamu ketahui adalah ternyata perusahaan merilis 1 milyar lembar saham. Artinya kepemilikan 100rb lembar saham tadi teramat sangat kecil kan.

Standard

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.