code, work

Symfony2

Kembali ke Bali untuk kesekiankalinya, dan kembali ke web development.

Seorang teman ajak untuk buat produk. Memutuskan untuk coba Symfony2 sebagai alat bantu utama. Setelah baca dokumentasi dan coba berulangkali, masih belum percaya diri untuk pakai framework yang satu ini.

Ga bisa bilang jelek atau buruk. Menurutku ini framework paling advance, dewasa, komplit, dan rumit. Bagus sekali, walau berat hati untuk mengakuinya.

Ga begitu sulit untuk memahami internal framework lain semacam Yii, Laravel, dsb. Tapi untuk yang satu ini, persis kayak pertama kali menaklukkan Magento dulu. Sakit kepala dan kesal secara konstan.

Seharusnya, kalau mau cepat, bisa saja pilih framework lain. Tapi entah kenapa kok ada tendensi untuk terus belajar dan coba pahami gimana Symfony2 ini bekerja. Symfony2 ini kayak hasil research bertahun-tahun dan belum berhenti. Blog penulisnya juga kaya akan ilmu dan tulisan bagus.

Entahlah. Kayaknya harus persisten dan stick dengan Symfony2 ini. Cuma bingung aja jelasin ke si temen, karena sudah pasti dia punya harapan untuk melihat produk secepat mungkin. Sigh.

Setelah dipikir-pikir, mata kuliah Komunikasi seharusnya dimasukkan ke kurikulum Ilmu Komputer. Bagaimana caranya mengkomunikasikan bahwa si programmer memilih tool A ke client. Bukan ngeles, ini serius.

Selain mata kuliah Komunikasi. Sebaiknya institusi pendidikan juga memaksakan agar anak kuliah Ilmu Komputer mempelajari source-code aplikasi open source. Ini penting sekali. Banget.

Merasa telat beberapa tahun baru tersadar betapa pentingnya belajar dari source code karya orang lain. Banyak teknik baru, implementasi pattern tertentu, dan sebagainya yang bisa dipelajari dan bakal sulit didapat kalau cuma membaca buku tertentu. Source code adalah dokumentasi paling valid.

Cuma ya siap-siap untuk dapat sakit kepala secara konstan.

Mempelajari source code, tentu tidak bisa lepas dari debugging. Pelan tapi pasti bakal memahami teknik debugging, dimana harus pasang breakpoint, kenapa harus periksa call stack, kapan harus cek nilai yang disimpan variable, dan sebagainya. Hal-hal kekgini minim diajarin di kuliahan. Setidaknya dulu cuma dikenalkan di Visual Basic. :|

Kok jadi banyak menuntut yak. Maksudnya adalah, masa kuliahan merupakan momen yang tepat untuk membangun mental dan cara berpikir sebagai programmer pro. Tidak perlu dihambur-hamburkan 3-4 tahun perkuliahan untuk hal-hal yang tidak berguna. Sayang sekali rasanya. Dengan model yang sekarang, programmers pro yang dihasilkan kampus jadi minim. Yang benar-benar bagus pasti ke luar negeri, rumput lebih hijau disana.

Duh, tulisan ini random sekali sih.

 

Standard

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.