lesson learned, life, quote

What’s in your mind?

Pernah kepikiran ga sih kenapa kita harus berpakaian?

Kenapa harus pakai helm ketika berkendaraan motor?

Kenapa Fort Knox, dan bank pada umumnya, harus disertai keamanan yang tinggi?

… kenapa kita harus berpikir?

Kesamaan diantara semua itu, menurut gw, karena ada sesuatu yang berharga yang harus dilindungi.

Tidak semua hal yang ingin kita ekspresikan (ucapan dan tindakan) langsung terjadi. Karena secara tak sadar (maupun sadar, karena terlatih) kita akan berpikir terlebih dahulu. Ekspresi, atau buah pikiran, adalah hasil akhir.

Manusia selalu berusaha untuk membaca pikiran manusia lainnya. Sudah seabrek usaha dan penelitian yang dilakukan untuk bisa membaca pikiran. Kenapa? Karena jelas bahwa pikiran itu berharga.

Psikologi adalah cabang ilmu pengetahuan yang didekasikan untuk mempelajari pikiran manusia melalui behaviour (perilaku, kebiasaan, tindak-tanduk). Karena kita adalah mahluk hidup yang unik antara satu dan lainnya, hampir mustahil untuk bisa mendapatkan solusi membaca pikiran personal. Oleh karena itu pengujian selalu membutuhkan sample (sekumpulan orang), dan menarik kesimpulan (pola) dari situ.

Pada saat interview kerja, misalnya, ada yang disebut psikotes. Tes tersebut bertujuan untuk mengenal pribadi pelamar (baca: menggali pikiran pelamar), dalam waktu singkat. Kenapa tes ini harus dilakukan? Untuk memastikan bahwa individu tersebut adalah orang yang tepat, untuk pekerjaan yang tepat pula.

Dunia bisnis juga punya kepentingan besar untuk bisa membaca pikiran manusia (baca: target pasar). Mereka punya kebutuhan untuk tahu (cenderung meramal, lebih tepatnya) produk atau jasa apa yang manusia inginkan. Problem mereka adalah; mereka punya dana yang besar tapi tidak waktu yang banyak — untuk melakukan penelitian layaknya akademis.

Lalu, bagaimana cara mereka membaca pikiran manusia? Atau, lebih parah lagi, memanipulasi pikiran manusia untuk tertarik dengan produk atau jasa mereka?

Jawabannya adalah media.

Kalau dulu, televisi dan radio. Salah satu contoh yang paling tepat dan sesuai konteks saat ini adalah Facebook dan Twitter. Tempat kita virtually nongkrong dan bersosialisasi.

Pernah kepikiran darimana Facebook atau Twitter mendapatkan uang untuk melayani pengguna yang hampir dari seluruh dunia?

Pernah kepikiran kenapa harus iklan situs jodoh lokal Indonesia yang tampil di kolom kanan Facebook? Apa karena kita jomblo single dan selalu browse ke halaman perempuan cantik gebetan kita? Atau sekedar kebetulan? Kalau kebetulan, kenapa tidak situs perjodohan luar negeri?

Ada yang bilang begini:

jika ada suatu produk yang begitu bagus dan berguna, namun disajikan dengan cuma-cuma — maka produk sebenarnya adalah kita sebagai pengguna

Ring a bell, already?
Belum?

Bayangkan semua hal yang sudah kita tuangkan ke Facebook: kata, grafis, aktifitas, tempat yang kita kunjungi, film yang kita tonton, buku yang kita gemari, halaman profil gebetan kita, status romansa, segalanya.

Semua hal tadi, secara cuma-cuma kita sumbangkan ke Facebook.

Sekarang, pikirkan bahwa Facebook adalah sebuah institusi akademis yang berisikan banyak psikolog. Mereka memproses segala buah pikiran kita. Menarik intisari dari semua itu. Lalu menjualnya ke pihak bisnis.

Sekarang siapa yang jadi produknya? Dan siapa yang jadi konsumennya? Semua tergantung perspektif.

Twitter, menurutku hanya sedikit berbeda. Beberapa orang yang gw follow, memperlakukan Twitter sebagai tempat sampah virtual mereka.

Dalam beberapa kasus cenderung lebih parah karena seringkali dijumpai tweeps (istilah keren pengguna Twitter), yang menuliskan isi pikirannya mentah-mentah. Seolah-olah Twitter ini adalah bagian tambahan tubuh yang berfungsi sebagai media bantu ber-ekspresi (atau ber-ekskresi?)

Sejujurnya, hal inilah yang menjadi pemicu kenapa gw harus menulis ini. Karena, ada yang bilang begini:

Pribadi seseorang bisa dilihat dari tempat sampahnya.

Nah lho. Trus gimana tuh yang punya banyak akun twitter? Satu tempat sampah sepertinya tidak cukup buat mereka ini ;)

Gw sendiri pernah terjebak dalam kondisi seperti itu. Punya tendensi untuk meneruskan isi pikiran ke Twitter. Sampai akhirnya gw sadar bahwa itu salah, dan menghapus akun tersebut. Yaaa, waktu itu juga memang lagi sibuk banget sihhhh.

Intinya adalah pikiran kita berharga karena pikiran bersumber langsung dari kita, berada didalam kita, dan kita punya tanggungjawab untuk melindunginya.

So. What’s in your mind?

Cheers.

ps:
Sori kalau tulisan kali ini jadi banyak sok tahu ;)

Standard

5 thoughts on “What’s in your mind?

  1. Soal media sebagai sarana untuk mengendalikan, bahkan mencuci otak kita, itu gue setuju banget. Gue udah hampir 2 tahun ini ga pernah nonton siaran TV lokal kecuali lagi makan di warteg atau RM Padang. Dan gue ga ngerasa kehilangan apa-apa. Gue tetep dapet segala berita yang gue pengen tahu dari Twitter, kadang malah opini langsung, bukannya cerita yang udah diatur sama media atau korporasi besar.

    Anyway, gue pengen tau kenapa elu nganggep nyampah di Twitter salah? menurut gue malah ‘berkicau’ di twitter lebih cocok dibandingin dikit-dikit elu nulis status di FB. Lebih pada tempatnya :)

    Lagipula kan bisa menjadi sarana penyaluran emosi, asal dengan cara yang benar kan (ex: bikin account private.)

    Gue sendiri punya 4 account twitter. Hehehe….

  2. a! says:

    kalo menurutku kok malah twitter itu yg bisa menjelaskan apa yg dialami penggunanya pd saat itu. aku yakin, sebagian besar orang ngetwit itu spontan. tak mikir berat. kenapa? karena dg mudah ditulis lalu hilang. manusiawi banget.

    soal sampah? nah. itu dia yg jadi masalah. sebagian besar orang memang suka nyampah di twitter. ngetwit hal2 sepele ataupun amat serius. tp ya memang begitu adanya. kalo mau lebih mendalam ya di blog.

    bagiku sendiri yg gak asyik tuh kalo di twitter cuma satu dua kata buat saling reply. itu suck! nyebelin. kasian orang yg follow dia.

  3. Hmmmm, pemikiran yg unik dan menarik. Jangan2 ada sesuatu di balik semua data yg kita masukkan di internet.

    Saya juga kadang curiga, kok friend suggestion di FB saya banyakan cewek. Cantik2 pula.

  4. Menulis di blog, FB dan Twitter akan menampilkan ke-aku-annya. Yang terjadi adalah melepaskan sesuatu sesuai dengan perspektifnya masing-masing dan kadangkala punya porsi tersendiri. Bisa nyampah ataupun sesuatu yang berguna.

    Klo aku, kadangkala FB dan Twitter kugunakan untuk jumper ke tulisan. Dan yang lebih bebas utk berpendapat adalah Twitter. Easy come and easy go.

    Lama tak jumpa, halo mister Leo!

  5. Media sosial (facebook & twitter) membuat orang bisa mengeluarkan sisi ‘aneh’-nya.

    Pemasar sekarang mandek dengan usaha ‘massa’-nya. Mereka lebih butuh sisi ‘aneh’ pasar untuk bertahan.

    Kata Seth Godin sih, bukan kata saya :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.