story

Tanpa Judul (sebuah review film Tanda Tanya)

Film yang baik memberikan penonton kebebasan untuk menterjemahkan maksud dari film tersebut. Tidak semua film tepat untuk melakukan hal ini. Pun, film yang tepat belum tentu berhasil melakukannya. Nah, film Tanda Tanya ini tepat dan berhasil.

Review film '?' (Tanda Tanya)

Setelah setahun lebih sejak terakhir kali menulis review film, berikut ini adalah review film Tanda Tanya versi gw. Peringatan: penuh bocoran dan amat subyektif

Soleh, salah satu tokoh sentral film ini, adalah seorang muslim yang berprofesi sebagai banser NU (Nahdlatul Ulama). Ketika sedang bertugas menjaga keamanan gereja pada sebuah perayaan natal, dirinya menemukan sebuah paket bom. Soleh panik. Sepersekian detik kemudian dia putuskan untuk berlari membawa bom tersebut keluar gedung gereja sebelum akhirnya meledak. Pada saat yang bersamaan di dalam gereja tengah berlangsung sebuah drama dimana Yesus Kristus baru saja lahir.

Adegan tadi adalah klimaks film ini. Ilustrasi yang dibalut dengan rapi. Digambarkan seorang Soleh mengorbankan dirinya, yang mirip –kalau tidak bisa dibilang persis– dengan apa yang dilakukan Yesus Kristus ketika dia bersedia disalibkan. Keduanya bertujuan untuk memberikan kebebasan (keselamatan) bagi banyak orang.

Film ini penuh dengan ilustrasi bermakna. Selain tokoh Soleh, gw temukan juga Surya.

Surya adalah seorang aktor figuran agak professional. Dia juga seorang muslim. Tokoh ini mencolok karena aktingnya yang menghibur sekaligus serius. Sebagian besar tawa pada film ini diproduksi oleh Surya.

Suatu kali dirinya diminta menjadi Sinterklas guna menghibur anak kecil bernama Abi yang terbaring di rumah sakit karena kondisi buruk. Sebagai seorang Sinterklas yang baik Surya bertanya kepada Abi, apa yang dia inginkan sebagai hadiah. Abi mengutarakan keinginannya kepada Surya; dia ingin agar Tuhan segera memanggil dirinya karena dengan demikian orangtuanya tidak perlu bersedih lagi.

Surya, lengkap dengan atribut Sinterklas yang awalnya penuh tawa berubah menjadi penuh tangis. Diperlihatkan seorang Sinterklas meraung-raung di trotoar jalan.

Tuhan mungkin memang bekerja dengan cara yang tidak bisa ditebak; Surya dipertemukan dengan Abi dalam kostum Sinterklas. Ironi, tapi berhasil mengubah persepsi Surya.

Ketika melihat adegan ini, khususnya saat Sinterklas yang menangis di trotoar, gw merasakan hal yang dirasakan Surya. Entah kenapa kesedihan ini (sepertinya) tidak dapat dirasakan oleh kebanyakan penonton. Pertama kali menonton film ini, hampir setengah dari penonton tertawa melihat Sinterklas (Surya) menangis terisak-isak dipinggir jalan.

Mungkin karena Surya sejak awal membangun karakter yang santai dan menghibur. Ketika dia menjadi Sinterklas yang penuh tawa, penonton tertawa. Lucunya, ketika tawa Sinterklas berubah menjadi tangis, penonton tetap tertawa.

~

Film ‘?’ (Tanda Tanya) adalah film Indonesia yang paling menarik awal tahun 2011. Film ini keren tanpa perlu menceramahi. Untuk menjawab pertanyaan Hanung: Masih perlukah kita berbeda? Berbeda itu perlu. Penting malah. Tapi berbeda saja tidak cukup. Berbeda dan signifikan jauh lebih penting, seperti film ini.

Well, jika membaca sampai titik ini. Anda berhak untuk mendapatkan bonus! Di situs ofisial film ini, tepatnya di halaman Press, ada diskusi antara Hanung dengan seorang yang memberi kritik keras (which is, imho, orang yang merasa beda). Detailnya bisa dilihat disini: http://filmtandatanya.com/press/. Recommended read.

Gw pribadi sangat merekomendasikan film ini. Kalau masih beredar di bioskop, segeralah menontonnya.

Enjoy the long-weekend. Enjoy yourself. Enjoy the difference. Enjoy life!

Standard

3 thoughts on “Tanpa Judul (sebuah review film Tanda Tanya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.