life, travel

Ticket to ride

“Eh … gw pengen banget lho kerja dan tinggal di luar Jawa atau Sumatera” kata gw ke pacar

“Irian Jaya, Timor-timor, Kalimantan….”
“…kemana aja lah yang penting diluar pulau ini. Pengen tahu aja gimana rasanya kerja dan tinggal di daerah lain” sambung gw.

Gw lupa kapan (dan ke pacar yang mana) statement itu gw kemukakan. Yang pasti sudah lama banget.

Bukan karena pacar gw banyak sampai bisa lupa detail obrolan waktu itu. Hanya saja, tampaknya, gw sudah terlalu lama membiarkan diri terlena dengan ritme kerja (dan hidup) di Jakarta. Sampai akhirnya terlupakanlah hal yang sempat ingin dilakukan.

Tapi ternyata hidup menyisakan tiket buat gw untuk menjemput keinginan (yang sempat terlupakan) tersebut. Beberapa bulan lalu gw coba apply ke sebuah perusahaan yang berpusat di Bali, dan diterima. This is a chance of a lifetime. Now or fever…ehh never.

And, hell yes! Now I live and work in Bali.

Panik adalah reaksi awal gw waktu itu. Ini bukan sekedar pindah kerja tapi sekaligus pindah untuk menetap ke tempat yang baru. Yang berarti harus kembali lagi ke tahap mengenal tata krama dan budaya lokal. Harus mengamati dan memperhatikan kebiasaan penduduk lokal. Dan meskipun ini bukan kali pertama gw pindah ke lingkungan yang baru (dulu pindah dari Medan ke Bogor untuk keperluan kuliah), tapi ini Bali; tempat tujuan wisata bukan tempat tujuan kerja.

*

Long story short, sampailah gw di Island of Gods a.k.a Bali awal Januari 2011 lalu. Kalau ditanya apa hal pertama yang gw rasakan, dengan pasrah gw akan jawab: gerah yang abnormal! Gw gak menyangka kalau ternyata pulau ini panas banget. Bahkan saat tulisan ini mulai diketik, jam 11 malam WITA, gw masih aja keringetan (yet smells like shit). Oh. I missed Jakarta already.

Gak cuma panasnya yang bikin gw ‘gerah’. Internet-nya juga bikin ‘gerah’. Ini sih totally salah gw. Berhubung kurang persiapan, berakhirlah gw dengan keadaan disconnected dari dunia maya. Yes! Gw ga punya koneksi Internet. “Mending ga punya pacar deh daripada ga punya koneksi Internet” (Leonardo Situmorang, Internet-addict, Bali, 2011)

hmm… bentar-bentar. gw twit dulu line barusan. jarang-jarang bisa norak begitu.

*

Wisata, Startup Lokal Bali, dan Bali Blogger Community

Sejauh ini gw belum pergi ke tempat wisata manapun kecuali Pantai Sindu. Eh…Pantai Sindu tempat tujuan wisata kan? Anyway, itu pun karena jaraknya cuma 5 menit berjalan kaki dari kos gw saat ini. Tempat kedua yang gw kunjungi adalah Popo Danes Art (Danes Art Veranda), sebuah galeri seni milik seorang arsitek terkenal (correct me if I wrong) yang berlokasi di Jalan Hayam Wuruk. Bukannya gw sok ngerti seni yaaah, justru kedatangan gw kesitu karena ada meetup bulanan Startup Lokal regional Bali (disebut juga dengan istilah SuBali). Informasi lebih lanjut tentang komunitas ini dan kegiatannya silahkan cek @startupbali atau subali.org

Ini kali kedua gw menghadiri meetup startup lokal. Menurut gw meetup di Bali jauh lebih menarik dari meetup yang pernah gw hadiri di Jakarta. Yang di Jakarta mungkin lebih tepat kalau disebut dengan networking night.

Ketika meetup berakhir gw (secara tidak langsung) sempat berkenalan dengan Pak Hendra WS. Founder Bali Orange Communication; sebuah penyedia layanan web hosting, web development, web design, dan web-related stuffs lainnya. Dari kunjungan singkat ke blog beliau, gw sampai ke website Bali Blogger Community (BBC). Ini bukan kali pertama gw dengar tentang BBC. Gw lihat mereka di Pesta Blogger 2008 lalu. Kalau ga salah ada beberapa orang perwakilan BBC yang hadir. Dan, yang sempat heboh adalah kegiatan sosial mereka: kunjungan ke RSJ!

Minggu ke-3 berada disini, gw sudah bergabung dengan dua komunitas lokal yang vibrant. Well, I’m not your community guy. Much more of a loner type as well as a silent reader. But I really think that jump into such positive local community is a very good idea. Atau justru yang gw lakukan ini adalah insting dasar manusia untuk selalu mencari tempat bersosialisasi?

*

Selain keluhan-reguler gw: isu panas dan internet. Hal lain yang cukup mengganggu adalah layanan transportasi darat. Angkutan umum sih ada tapi jarang banget. Ojek juga ada, tapi belakangan ini sering hujan dan gw ga berani ambil resiko dengan laptop on my back. Mau ga mau pilihan jatuh ke taksi. Itu pun, seperti ketika sepulang dari Danes Art Veranda, gw menunggu setengah jam lebih baru bisa dapat taksi (waktu itu belum tahu nomer telpon Bluebird Bali). Selain ketiga hal itu, sepertinya belum ada lagi yang gw permasalahkan disini. Dari kantor ke kos juga cuma 1 menit jalan kaki. Selamat tinggal deh itu kemacetan Jakarta. *melambai-lambaikan tangan*

Tiga minggu pertama gw di Bali, summed up in a super-short blog post. I’m excited with all these new experiences. Kesimpulannya sih, gw bersyukur lah dapat kesempatan untuk bisa kerja dan tinggal di Bali. Semoga aja bisa buat buku After Ngurah Rai Bypass, ngalah-ngalahin After Orchard. Hahaha.

Cheers.

x

Standard

11 thoughts on “Ticket to ride

  1. “Gw lupa kapan (dan ke pacar yang mana) statement itu gw kemukakan. ”

    ini adalah stetmen paling zzzz -_-

    pilihan disana selain internet wireless ga ada gitu? yang cable? atau coba cdma, smart? kayanya mendingan. gue juga pake im2 cuma buat dipake sync dropbox & buka email, toh kalo mua yang high speed kan bisa numpang kantor :p

    anyway, good to hear u are alright & mulai bersosialiasi *piss* :)

    sukses bro!

  2. hola…. semoga betah di bali ya ito….

    oya, aku setuju dgn kalimat: insting dasar manusia untuk selalu mencari tempat bersosialisasi…

    entah itu ikut klub foto, atau gereja, atau apa pun, yg penting nggak sendirian… :)

    • leonardo says:

      Bali emang panas beneran lho!

      Yah…kalau penduduk lokal berkomentar dan bilang Bali ndak panas, itu seperti eskimo bilang kutub utara disana ndak dingin. Haha. Peace.

      Thanks for stop by.

    • leonardo says:

      i doubt that will happen, sis.

      aku belum kemanapun. dan belum punya rencana apapun. masih sibuk cari dan buang-buang duit. lebih banyak buangnya dari pada carinya. ;)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.