life, work

Three in the morning

Sengaja gw buka tirai jendela kamar lebar-lebar agar asap rokok mengalir bebas. Di rumah ini memang tidak ada yang merokok selain gw. Pun, gw berani merokok sebelum setelah memastikan bahwa sepupu gw sudah terlelap dan pintu kamar ini terkunci. Dua puluh empat tahun, dan merokok sembunyi-sembunyi di kamar. Haha.

Tentang Blog

Jadi teringat beberapa tahun lalu dimana esensi nge-blog bukan karena intensi untuk membangun imej di dunia maya, melainkan karena kita punya hasrat untuk mencurahkan isi hati ke dalam tulisan. Sekarang, entah kenapa kok terasa begitu sulit. Seolah-olah kehidupan sok professional —yang diwakilkan dengan kata ‘sibuk’— menahan curhatan dan ide liar yang dulu kerap hinggap di kepala. Seolah-olah menjadi diri sendiri itu mahal.

Saat ini ada seabrek teknologi untuk memonitor tulisan terbaru yang ada di blog. Keberadaan teknologi ini membangun kondisi seolah-olah ada yang mengawasi apa yang kita pikir, rasa, dan lakukan. Yang untuk satu dan lain hal tujuan penggunaan teknologi tersebut adalah mengetahui kapasitas individu berdasarkan informasi yang dihasilkannya.

Pada kenyataannya banyak dari kita yang butuh media dimana kita bisa dengan bebas mengekspresikan emosi dan segala rasionalitasnya tanpa perlu merasa was-was. Karena kita merasa butuh didengarkan (dibaca) orang lain. Tentunya tanpa agenda tersembunyi dan tanpa intensi. Murni ekspresi.

Semua tahu bahwa waktu mengubah segalanya. Tapi ketika gw melihat ke belakang, barang sejenak saja, gw kangen sekaligus malu. Kok bisa ya gw se-ekspresif itu menulis sesuatu. Peduli setan akan segala hal, tulis apa yang dirasa perlu ditulis. Alhasil tiap baca tulisan terdahulu, ingatan-ingatan yang beku terasa mencair. Tawa pun terkadang tak terelakkan. Gw rindu masa-masa itu.

Menghela nafas.

Tentang Pekerjaan

Beberapa minggu terakhir gw berangkat ke kantor dengan Kopaja. Kalau tidak mengantuk, gw suka mengamati wajah penumpang lain yang mayoritas pekerja. Wajah dengan mimik serupa yang gw jumpai ketika datang ke Jakarta untuk interview pekerjaan pertama gw beberapa tahun yang lalu. Lelah dan tidak bersinar.

Waktu itu gw berjanji kepada diri sendiri untuk berusaha agar tidak sama dengan orang lain. Sebulan pertama kerja, gw berangkat ke kantor dengan penuh senyum. Begitu juga ketika pulang. Bebas untuk percaya atau tidak. Perlahan memang, tapi ternyata waktu mengajarkan hal yang sama. Gw mewarisi mimik dari ratusan ribu orang Jakarta. Dan hal tersebut memang tidak baik.

Walau demikian, waktu ternyata cukup adil. Suatu ketika gw bergabung di sebuah media yang berlokasi di sekitaran Lebak Bulus dan gw mengerjakan sebuah proyek yang amat gw senangi. Gw ingat betul. Waktu itu sering pulang ke rumah jam 5 subuh hanya untuk tidur, lalu berangkat ke kantor lagi jam 12 siang. Berulang seperti itu untuk beberapa saat. Gw sadari betul ada energi besar yang nge-drive ketika mengerjakan sesuatu yang kita senangi dan orang lain mendukung hal tersebut. Terkadang kita hanya butuh diberi kesempatan dan didengarkan agar bisa memberikan yang terbaik dari yang kita punya.

Saat itu gw berbeda dengan ratusan ribu pekerja lain di Jakarta

Tentang Realita

Sekarang gw bekerja di perusahaan yang masih muda sekali. Meskipun beberapa orang akan tidak setuju jika gw katakan demikian. Saat ini gw berusaha untuk jatuh cinta ke pekerjaan gw. Berusaha untuk jatuh cinta ke lingkungannya. Dan terakhir berusaha jatuh cinta ke proyeknya agar bisa all-out lagi seperti dulu.

~

Tulisan kali ini ngalor-ngidul. Dibuat semata-mata karena susah tidur akibat kebanyakan tidur siang. Sedang mencoba menggali ingatan dan introspeksi.

Cheers.

Standard

2 thoughts on “Three in the morning

  1. :)

    pengamatan serupa pernah juga gue bahas di blog gue.
    intinya itu, rutinitas bikin manusia jadi robot.

    tapi, apa iya sebegitu susahnya untuk jadi manusia normal di sela aktivitas sehari-hari yang mepet? kenyataannya emang iya tuh.

    *sigh*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.