lesson learned, life, notes

Whatever comes around. Goes around.

So long, little dog.

So long, little dog.

Suatu kali, ketika gw SD, keluarga gw dikasi seekor bayi anjing. I aint a dog lover type, but I have to admit that I loved our little dog back then. Mungkin karena sayang, waktu itu kita terlalu memanjakan anjing kecil itu. Masuk-masuk ke rumah lalu meninggalkan jejak berlumpur disana-sini, jelas bisa memancing emosi.

Ada satu titik, dimana akhirnya bapak gw can’t controlled himself dan menendang anjing kecil kita ini. Layaknya seorang atlit sepakbola menendang bola. Waktu gw lihat itu, gw cuma bisa terdiam.

Tidak. Anjing kecil itu tidak mati.
Belum, tepatnya.

Anjing kecil itu masuk ke dimensi yang sering kita beri label ‘trauma’.
Trauma, dimanapun di bagian dunia ini, leads to one thing: stress.

Seekor anjing kecil yang tidak punya mahluk sejenis disekitarnya (orphan, yet alone), dihadiahi luka pula.

Setelah peristiwa penorehan luka itu, anjing kecil kita tidak mau makan. Tidak pernah mau masuk ke rumah. Dan, tidak pernah ceria lagi. Ga perlu menunggu lama, sampai akhirnya kita temukan anjing kecil itu tak bernyawa dibalik kain perca yang kita jadikan selimutnya.

Sejak itu, gw memutuskan untuk ga mau lagi pelihara-pelihara binatang dan jatuh cinta ke binatang.

Foto di awal post ini, bukan foto anjing kecil gw itu. Ini bayi anjing milik sepupu gw. Bayi anjing yang saat itu bahkan belum bisa membuka matanya untuk bisa menikmati jutaan kombinasi warna dan segala formula pantulan cahaya.

Beberapa hari setelah gw take foto ini, gw dapat berita bahwa bayi anjing ini sudah dipanggil pencipta.

Well. I do believe that God is the one who keep all the balance. Mungkin, Dia ga mau anjing kecil itu untuk melawan sadisnya dunia, jadi dia memutuskan untuk memanggilnya lebih awal.

Sengaja gw ga mau pakai istilah seleksi alam. God itself is the root of the universe.

Pelajarannya:
1. Apapun yang datang, pasti pergi. Whatever comes around, goes around.
2. For parents: think before do anything. Lo bisa aja menorehkan ‘luka’ yang ga lo sadari ke anak-anak lo. Untung aja gw sedari kecil emang smart, jadi gw bisa handle diri gw. *haha. najis*

Cheers.

Standard

2 thoughts on “Whatever comes around. Goes around.

  1. Atre says:

    aduh, apa karena gue lagi PMS atau karena lagi cape atau emang lagi cengeng aja ya, kok gue tekaing-kaing baca posting lo yang ini. huhuhu…

    gue pernah (pertama dan terakhir kalinya) juga pelihara kucing. kucing berbulu abu-abu putih. namanya Pupu. gue juga punya trauma yang sama kek lo. ga mau pelihara binatang lagi karena ga mau ngerasain sedihnya (Pupu mati ketabrak mubil).

    asli, kemaren gue tiba-tiba kepikiran si Pupu. huhu…

    and yes, apa pun yang datang, pasti pergi :(

  2. ai says:

    Gw akuin peri kehewanan gw lebih besar daripada peri kemanusiaan makanya gw juga ikut sedih ngebayangin anjing lw ditendang..teganya.. :(

    obsesi gw klw udah dewasa cuma satu..miara kucing..hohoho… :mrgreen:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.