lesson learned, life, notes

Galih Maulana

Disclaimer
Tulisan dibuat semata-mata sebagai catatan bahwa saya pernah menjadi korban penipuan, dan tentunya dengan harapan agar catatan ini berguna bagi siapapun di masa depan yang kemungkinan terjebak dalam situasi yang sama dengan saya saat tulisan ini dibuat.

Tulisan dibuat dengan kesadaran penuh bahwa saya adalah penduduk Negara Kesatuan Republik Indonesia yang punya hak dalam kebebasan berekspresi. Hal ini saya baca dalam buku berjudul Kebebasan Berekspresi Panduan Bagi Jurnalis dan Aktifis Kebebasan Berekspresi (Asosiasi Jurnalis Independen / AJI, cetakan pertama Maret 2010).

Tulisan tidak dibuat dengan tujuan untuk menyudutkan maupun menjelek-jelekkan (upaya pencemaran nama baik) pihak manapun.

Tulisan ini dapat diakses siapapun, dimanapun, kapanpun, dan bebas disebarluaskan tanpa terlebih dahulu meminta izin kepada saya. Tetapi saya tidak bertanggungjawab atas efek samping –dalam bentuk apapun– yang tidak saya harapkan dari penyebaran catatan ini.

Saya juga tidak bertanggungjawab atas segala bentuk peristiwa yang mungkin terjadi di masa depan yang mungkin saja diakibatkan oleh catatan ini.

Apabila pembaca menemukan ada informasi yang tidak valid, dan bisa membuktikan hal tersebut, silahkan kontak saya melalui kolom komentar.

Pembaca yang tidak menyetujui isi disclaimer ini sangat tidak disarankan untuk melanjutkan membaca.

Pembaca yang menyetujui disclaimer ini sebaiknya membaca catatan secara utuh.

Continue reading

Standard
lesson learned, life

Kuta, Geekssmile, and being grateful

Malam ini memutuskan menginap di villa yang merangkap tempat kerja. Awalnya kemari cuma niat untuk renang dan upload video hasil rekaman live Geekssmile kemarin malam di Kuta — ada tiga video dan masing-masing hampir 60 megabytes, sulit kalau mengharapkan koneksi wireless 3G.

Well. Somehow merasa bersyukur sekali bisa dapat pengalaman kekgini. Maksudnya, kerja di tempat setenang dan se-adem ini. Dapet temen orang asing dari displin berbeda yang juga asik personalnya.

Experience is expensive. That’s what l learned tonight.

Standard
random

Ubud

Kalau di Jakarta, rata-rata jarak tempuh rumah menuju kantor adalah 17 kilometer. Pulang-pergi, tinggal dikalikan dua, maka dapat angka 34 kilometer. Sementara disini, jarak tempuh kantor menuju tempat tinggal adalah 21 kilometer.

Keisenganku mengukur jarak tempuh bermula sejak punya motor. Motor punya pengukur jarak tempuh yang salah satu tujuannya untuk mengetahui kapan harus mengganti oli. Pengukur yang dengan mudah kita reset menjadi nol inilah yang seringkali ku-reset ketika ingin tahu jarak tempuh.

Lain jarak tempuh, lain pula waktu tempuh. Banyak parameter yang masuk didalamnya, antara lain: kecepatan motor, macet, dan cuaca. Waktu tempuh di Jakarta untuk jarak 17 kilometer menuju kantor bisa berbeda dibandingkan ketika pulang menuju rumah, rata-rata satu jam. Waktu tempuh disini lebih manusiawi: jarak 21 kilometer cuma butuh waktu setengah jam. Berhubung sedang musim panas maka faktor cuaca bisa dihapus.

Okay. I’m totally lost. Entah kenapa tadi di awal kubuat judulnya Ubud. Grrrr.

tempat kerja saat ini: shared-villa. tempat kerja lho ya, bukan kantor. :D

Standard