notes, technology

Opera Software: Bali Blogger Meet-up

Pernah terpikir ga sih browser semacem Opera dapet duit darimana?

Dulu banget (pas gw masih bocah) kudu pakai keygen supaya bisa pakai browser yang satu ini. Yes, waktu itu browser inovatif ini berbayar sebelum kemudian muncul versi gratis yang dibubuhi iklan di ‘navigation bar’-nya. Berbayar karena Opera ini *sangat* inovatif, dan merupakan pionir browser dengan tab.

Pertanyaan tadi terjawab Rabu (17 Oktober 2012) malam lalu di acara Opera Browser Bali Blogger Meet-up, tepatnya di Warung Made Seminyak.

Daud Irsan Aditirto (Business Development Director, Opera Software Indonesia) membocorkan salah satu sumber pendapatan Opera browser. Doi jelaskan bahwa tiap pencarian yang dilakukan pengguna melalui kotak pencarian di sudut kanan atas Opera browser bernilai beberapa sen. Google sebagai default search engine ternyata punya kontrak kerjasama dengan Opera. Cool!

Sebelumnya gw sudah pernah baca bahwa browser lain juga punya deal dengan Google. Nilai kontraknya juga fantastis! (di acara meet-up kemarin, gw sebut angka USD 1 juta yang ternyata salah besar. my bad).

Selain pendapatan dari kotak pencarian, doi juga jelaskan bahwa ternyata Opera Software sudah memasuki pasar yang tidak dimasuki browser companies lain: mid-to-low end mobile handheld devices. Bisa dikatakan rata-rata “hape Cina” yang beredar di pasar saat ini punya Opera browser di dalamnya.

Hal baru yang menurut gw gokil adalah fakta bahwa browser ini tidak terinstall di atas operating-system melainkan implanted di chip! Murah, cepat, dan memenuhi kebutuhan (serta limitasi) device di level tersebut. Sangat cerdas.

Gw sendiri pengguna Android, dan kebanyakan waktu menggunakan stock browser. Tapi, seperti yang kita ketahui koneksi data provider telekomunikasi kita kacrut banget. Emang sih dapetnya 3G, tapi 3G ecek-ecek. Efeknya? Mau browsing aja terkadang bisa nambah stres.

Opera browser (Opera Mini dan Opera Mobile, tepatnya) punya pendekatan berbeda. Kebanyakan pengguna awam mungkin tidak sadar bahwa browsing dengan browser ini ‘lebih cepat’. Hal ini memungkinkan karena hape kita tidak terhubung langsung ke website yang ingin kita kunjungi/buka, melainkan kita terlebih dahulu terhubung ke proxy server milik Opera, lalu Opera-lah lah yang mengambil konten dari website tersebut dan mengirimkannya ke browser. Lihat gambar di bawah ini, atau baca halaman Wikipedia ini untuk detailnya.

Namun ada satu pertanyaan lagi yang ingin gw tanyakan: lokasi proxy server Opera ini dimana? Apakah ada di Indonesia? Karena letak geografis sangat mempengaruhi kecepatan. Apalagi ketika website yang kita akses adalah website lokal yang servernya juga berada di jaringan Internet lokal Indonesia (IIX/OpenIXP).

Ada banyak lagi teknologi bagus yang dimiliki Opera browser, semacem Opera Turbo, Dragonfly, dsb. Penasaran? Dateng ke meet-up berikutnya! :P

Tapi seperti kebanyakan teknologi, Opera browser tidak dibuat untuk semua jenis pengguna. Kita masing-masing punya preferensi. Tinggal memilih solusi yang tepat untuk masalah yang tepat.

Satu hal yang sangat disayangkan ketika meet-up kemarin adalah minimnya peserta yang datang. Cuma ada gw, mas @kojaque, dan @adisetiawan.

Kenapa?

Ternyata di Bali ada tanggal tertentu yang menurut kepercayaan lokal sangat tepat untuk melangsungkan pernikahan. Bloggers yang awalnya berminat untuk hadir mendadak berhalangan karena harus menghadiri rentetan undangan pernikahan. Hari yang ngenes buat event apapun (dan para jomblo :P).

Well. Ini blog post pertama gw yang disponsori oleh perusahaan browser. Disponsori segelas bir bintang dingin :D

Cheers.

Standard