Archive for the 'story' Category

Setiap Hari

Tiga puluh menit menuju jam sebelas malam dan gw masih di bis umum. ‘Follow and Feel’-nya Saosin tenggelam, kalah adu dengan deru bis meski volume suara ipod sudah tiga-per-empat maksimal.

Kurasa sopir bis ini sudah gila. Mungkin dianggapnya kami ini sekumpulan ayam rabun senja, atau bahkan manusia yang tumpul secara emosi. Masa’ bis butut seperti ini dikendarai seakan mobil balap rilisan 2011 berpenumpang dua. Edan!

Tapi, ah, peduli setan. Satu hal yang dia tahu –dan kejar– kan cuma setoran. Peduli amat sama penumpang. Gw mencoba-coba menerka apa yang ada dipikiran si sopir.

Perhatian gw teralihkan ke seorang pengamen lusuh dengan gitar kecil seadanya. Dia berdiri –bersandar, tepatnya– di pintu depan bis tanggung jurusan Lebak Bulus ini. Orangnya kurus dan ga begitu tinggi, mungkin sekitar 150-160 cm. Rambutnya belah-tengah tak karuan yang entah memerah karena setiap hari kena terik matahari atau efek lampu 5 watt standar bis tanggung — tak begitu kuperdulikan.

Baju pengamen muda itu lusuh betul. Mungkin warna dasar bajunya hitam, tapi tulisan yang tercetak di kaosnya sudah ga jelas. Tebakanku sih, NOFX atau ST12. Terserahnya lah.

Kali ini kubetulkan letak ear-phone yang kupakai. Deru bis ini semakin tak tertahankan. Kali ini, ‘Contender’-nya Fenech-Soler. Lagu yang sedang gw gandrungi ini jadi sama sekali tak menarik jika dinikmati berbarengan dengan bisingnya bis. Tolol, umpatku.

Kembali si pengamen muda. Tampaknya dia belum juga menyerah. Mungkin memang berniat menyanyi se-album dan mendulang emas. Hallah. Becandaan gw kelewatan.

Si bocah ini sudah makan malam belum ya?
Sehabis ini, mau kemana lagi?
tiba-tiba gw kepikiran seperti itu.

Kalaupun dapat uang, ah pasti habisnya ke minuman. Dasar berandalan. Gw mulai menghakimi.

Bis tanggung ini dengan cepatnya berpindah jalur dari kanan ke bahu jalan sebelah kiri. Ya, sedang di jalan tol. Bukannya mengurangi kecepatannya, supir tolol di depan sana malah menambah kecepatan. Speechless lah gw.

Bocah pengamen lusuh tadi tiba-tiba menghilang.

Eh, ternyata dia ada di depan sana.

Menyodorkan pundi emasnya ke tiap penumpang.

Pengamen itu tiba di penumpang yang sedang sibuk sms-an, yang telpon-an, yang ngobrol, yang pura-pura sibuk, yang tidur dan pura-pura tidur, yang bengong.

Sampai akhirnya pengamen muda itu tiba dihadapan seorang penumpang ber-‘ear-phone‘ yang sedang sibuk merangkai alur cerita untuk ditulis.

Gw selalu menyimpan receh kembalian loket Transjakarta (Busway) di kantong kiri tas ransel. Gw selipkan tangan kiri ke kantong tas ransel. Dua bongkahan logam, masing-masing bernilai ekstrinsik lima ratus rupiah, gw letakkan ke dalam pundi emas (dari bungkus permen bekas) milik si pengamen.

Tanpa mengucapkan terima kasih, pengamen muda itu berlalu dan kemudian turun di bilangan Poins Square berbarengan dengan sejumlah penumpang lainnya.

Delapan menit kemudian gw turun di perempatan Pasar Jumat. Masih harus menikmati macet, hanya saja kali ini ditemani musik yang terdengar lebih jelas.

Satu malam lagi terlewati, seperti malam kemarin. Dilarang menghela nafas.

Grow Together. Die Alone.

What will happen when I die?

Will I be alone?

Then. What’s the difference of being life if I will also ended up alone at the end?

Shit. I hate this life.

Tanpa Judul (sebuah review film Tanda Tanya)

Film yang baik memberikan penonton kebebasan untuk menterjemahkan maksud dari film tersebut. Tidak semua film tepat untuk melakukan hal ini. Pun, film yang tepat belum tentu berhasil melakukannya. Nah, film Tanda Tanya ini tepat dan berhasil.

Review film '?' (Tanda Tanya)

Setelah setahun lebih sejak terakhir kali menulis review film, berikut ini adalah review film Tanda Tanya versi gw. Peringatan: penuh bocoran dan amat subyektif Continue reading ‘Tanpa Judul (sebuah review film Tanda Tanya)’

Mourning

I feel you. I really do.

From what you’ve experienced last night, it reminded me of something that I occasionally forget.

That I need those people to know and also realise, I really love and care about them. Before they really gone.

Karena sesuatu yang paling dekat dengan kita adalah kematian. Dan yang paling jauh adalah masa lalu.

Silent Reader

Silent Reader

Well, I happened to be a quite active silent-reader lately. On the weekend, I randomly picked a blog from people around me, thus read their blog posts.

Nothing really special to be sure, but I happened to have this habit to read others blog from their very early posts onward. Though heavily depends on the blog content itself, but read them in reverse is somewhat amusing.

Especially for me whom happened to switch job in a speed of light, thus occasionally met a lot of new people. And in the mean time I personally having a difficulty to get close to people. I figure out, this is my way to solve my inabilities to know them. Doing it this way, I can catch up with their experiences, thought, sometimes past, and in particular, themself. Continue reading ‘Silent Reader’