lesson learned, life, notes

Galih Maulana

Disclaimer
Tulisan dibuat semata-mata sebagai catatan bahwa saya pernah menjadi korban penipuan, dan tentunya dengan harapan agar catatan ini berguna bagi siapapun di masa depan yang kemungkinan terjebak dalam situasi yang sama dengan saya saat tulisan ini dibuat.

Tulisan dibuat dengan kesadaran penuh bahwa saya adalah penduduk Negara Kesatuan Republik Indonesia yang punya hak dalam kebebasan berekspresi. Hal ini saya baca dalam buku berjudul Kebebasan Berekspresi Panduan Bagi Jurnalis dan Aktifis Kebebasan Berekspresi (Asosiasi Jurnalis Independen / AJI, cetakan pertama Maret 2010).

Tulisan tidak dibuat dengan tujuan untuk menyudutkan maupun menjelek-jelekkan (upaya pencemaran nama baik) pihak manapun.

Tulisan ini dapat diakses siapapun, dimanapun, kapanpun, dan bebas disebarluaskan tanpa terlebih dahulu meminta izin kepada saya. Tetapi saya tidak bertanggungjawab atas efek samping –dalam bentuk apapun– yang tidak saya harapkan dari penyebaran catatan ini.

Saya juga tidak bertanggungjawab atas segala bentuk peristiwa yang mungkin terjadi di masa depan yang mungkin saja diakibatkan oleh catatan ini.

Apabila pembaca menemukan ada informasi yang tidak valid, dan bisa membuktikan hal tersebut, silahkan kontak saya melalui kolom komentar.

Pembaca yang tidak menyetujui isi disclaimer ini sangat tidak disarankan untuk melanjutkan membaca.

Pembaca yang menyetujui disclaimer ini sebaiknya membaca catatan secara utuh.

Continue reading

Standard
notes, technology

Opera Software: Bali Blogger Meet-up

Pernah terpikir ga sih browser semacem Opera dapet duit darimana?

Dulu banget (pas gw masih bocah) kudu pakai keygen supaya bisa pakai browser yang satu ini. Yes, waktu itu browser inovatif ini berbayar sebelum kemudian muncul versi gratis yang dibubuhi iklan di ‘navigation bar’-nya. Berbayar karena Opera ini *sangat* inovatif, dan merupakan pionir browser dengan tab.

Pertanyaan tadi terjawab Rabu (17 Oktober 2012) malam lalu di acara Opera Browser Bali Blogger Meet-up, tepatnya di Warung Made Seminyak.

Daud Irsan Aditirto (Business Development Director, Opera Software Indonesia) membocorkan salah satu sumber pendapatan Opera browser. Doi jelaskan bahwa tiap pencarian yang dilakukan pengguna melalui kotak pencarian di sudut kanan atas Opera browser bernilai beberapa sen. Google sebagai default search engine ternyata punya kontrak kerjasama dengan Opera. Cool!

Sebelumnya gw sudah pernah baca bahwa browser lain juga punya deal dengan Google. Nilai kontraknya juga fantastis! (di acara meet-up kemarin, gw sebut angka USD 1 juta yang ternyata salah besar. my bad).

Selain pendapatan dari kotak pencarian, doi juga jelaskan bahwa ternyata Opera Software sudah memasuki pasar yang tidak dimasuki browser companies lain: mid-to-low end mobile handheld devices. Bisa dikatakan rata-rata “hape Cina” yang beredar di pasar saat ini punya Opera browser di dalamnya.

Hal baru yang menurut gw gokil adalah fakta bahwa browser ini tidak terinstall di atas operating-system melainkan implanted di chip! Murah, cepat, dan memenuhi kebutuhan (serta limitasi) device di level tersebut. Sangat cerdas.

Gw sendiri pengguna Android, dan kebanyakan waktu menggunakan stock browser. Tapi, seperti yang kita ketahui koneksi data provider telekomunikasi kita kacrut banget. Emang sih dapetnya 3G, tapi 3G ecek-ecek. Efeknya? Mau browsing aja terkadang bisa nambah stres.

Opera browser (Opera Mini dan Opera Mobile, tepatnya) punya pendekatan berbeda. Kebanyakan pengguna awam mungkin tidak sadar bahwa browsing dengan browser ini ‘lebih cepat’. Hal ini memungkinkan karena hape kita tidak terhubung langsung ke website yang ingin kita kunjungi/buka, melainkan kita terlebih dahulu terhubung ke proxy server milik Opera, lalu Opera-lah lah yang mengambil konten dari website tersebut dan mengirimkannya ke browser. Lihat gambar di bawah ini, atau baca halaman Wikipedia ini untuk detailnya.

Namun ada satu pertanyaan lagi yang ingin gw tanyakan: lokasi proxy server Opera ini dimana? Apakah ada di Indonesia? Karena letak geografis sangat mempengaruhi kecepatan. Apalagi ketika website yang kita akses adalah website lokal yang servernya juga berada di jaringan Internet lokal Indonesia (IIX/OpenIXP).

Ada banyak lagi teknologi bagus yang dimiliki Opera browser, semacem Opera Turbo, Dragonfly, dsb. Penasaran? Dateng ke meet-up berikutnya! :P

Tapi seperti kebanyakan teknologi, Opera browser tidak dibuat untuk semua jenis pengguna. Kita masing-masing punya preferensi. Tinggal memilih solusi yang tepat untuk masalah yang tepat.

Satu hal yang sangat disayangkan ketika meet-up kemarin adalah minimnya peserta yang datang. Cuma ada gw, mas @kojaque, dan @adisetiawan.

Kenapa?

Ternyata di Bali ada tanggal tertentu yang menurut kepercayaan lokal sangat tepat untuk melangsungkan pernikahan. Bloggers yang awalnya berminat untuk hadir mendadak berhalangan karena harus menghadiri rentetan undangan pernikahan. Hari yang ngenes buat event apapun (dan para jomblo :P).

Well. Ini blog post pertama gw yang disponsori oleh perusahaan browser. Disponsori segelas bir bintang dingin :D

Cheers.

Standard
lesson learned, life, love, notes, work

End of 2011

I can’t recall the last time I spent my new year eve with my parents. It is sad that I don’t miss them that much. I wanted to be there, but I don’t have tendencies to do so. -_-”

It is the last night of 2011. Eight o’clock sharp, as I’m writing this post. I had no one asking me out. Had no where to go. No gig to hit. No whatsoever. I am totally on my own.

This is a bad year. (Though, I must admit that 2010 is worst ever.) Few remarkable things:
1. three times switch jobs
2. ex-es got married
3. being an ignorant single for the whole year

Gosh.

But anyway, I also met with a whole lots of new people this year. Friends and enemies that I met, I’m glad to met you people. Thanks for shaping me up.

One thing I regret is my decision to go back to Jakarta. I should have stayed in Bali. Fyi, I only stayed there for two months. And those two months was spent working. That’s what I’m regretting the most. But yeah, I know. Things happened for reason. I should go there next year, for holiday.

As for the ex-es. I can’t imagine how happy they’re right now, with their new family. I hope they really are.

Talking about jobs. No, not job actually. I met with this guy on twitter, he offered me a job. I took the chance and get back to Jakarta and joined the company. This, Balinese guy, I personally respect him. He is an ignorant bastard who talked very big, but also a freakin genius. His attitude is at his worse. But on the otherhand he is the most responsible team leader I’ve ever met. Salute for you, bro. You know who you are.

At almost the same moment, within the same company, I also met an ‘enemy’. It’s not an enemy actually. It’s just, different people came up with different agenda, and me decided to stepped back. I did wrote a post about this. Lets skip this.

About being single. I had no idea. Really had no idea.

To wrap it all up. I wish all you people a happy new year. Lets hope for the best and prepare for the worst. Yeeehaaaw.

Standard
lesson learned, life, notes

Whatever comes around. Goes around.

So long, little dog.

So long, little dog.

Suatu kali, ketika gw SD, keluarga gw dikasi seekor bayi anjing. I aint a dog lover type, but I have to admit that I loved our little dog back then. Mungkin karena sayang, waktu itu kita terlalu memanjakan anjing kecil itu. Masuk-masuk ke rumah lalu meninggalkan jejak berlumpur disana-sini, jelas bisa memancing emosi.

Ada satu titik, dimana akhirnya bapak gw can’t controlled himself dan menendang anjing kecil kita ini. Layaknya seorang atlit sepakbola menendang bola. Waktu gw lihat itu, gw cuma bisa terdiam.

Tidak. Anjing kecil itu tidak mati.
Belum, tepatnya.

Anjing kecil itu masuk ke dimensi yang sering kita beri label ‘trauma’.
Trauma, dimanapun di bagian dunia ini, leads to one thing: stress.

Seekor anjing kecil yang tidak punya mahluk sejenis disekitarnya (orphan, yet alone), dihadiahi luka pula.

Setelah peristiwa penorehan luka itu, anjing kecil kita tidak mau makan. Tidak pernah mau masuk ke rumah. Dan, tidak pernah ceria lagi. Ga perlu menunggu lama, sampai akhirnya kita temukan anjing kecil itu tak bernyawa dibalik kain perca yang kita jadikan selimutnya.

Sejak itu, gw memutuskan untuk ga mau lagi pelihara-pelihara binatang dan jatuh cinta ke binatang.

Foto di awal post ini, bukan foto anjing kecil gw itu. Ini bayi anjing milik sepupu gw. Bayi anjing yang saat itu bahkan belum bisa membuka matanya untuk bisa menikmati jutaan kombinasi warna dan segala formula pantulan cahaya.

Beberapa hari setelah gw take foto ini, gw dapat berita bahwa bayi anjing ini sudah dipanggil pencipta.

Well. I do believe that God is the one who keep all the balance. Mungkin, Dia ga mau anjing kecil itu untuk melawan sadisnya dunia, jadi dia memutuskan untuk memanggilnya lebih awal.

Sengaja gw ga mau pakai istilah seleksi alam. God itself is the root of the universe.

Pelajarannya:
1. Apapun yang datang, pasti pergi. Whatever comes around, goes around.
2. For parents: think before do anything. Lo bisa aja menorehkan ‘luka’ yang ga lo sadari ke anak-anak lo. Untung aja gw sedari kecil emang smart, jadi gw bisa handle diri gw. *haha. najis*

Cheers.

Standard