Archive for the 'lesson learned' Category

Page 2 of 4

Rebel

Dalam banyak kesempatan menghadapi konflik, saya punya kecenderungan untuk diam dan mundur. Saya malas debat kusir tiada akhir. Tidak akan ada solusi disitu. Toh, konflik muncul karena pada dasarnya tiap orang punya agenda masing-masing.

Saya tentu saja bisa salah. Dan, kalau salah, saya pastikan bisa menerima koreksi. Hanya saja, tolong berikan koreksi yang masuk akal. Bukan sejumlah argumen yang dibuat atas dasar subyektifitas dan susah dibuktikan.

Kita berada dalam lingkungan orang-orang teknis yang berpikiran logis. Konflik sebaiknya diselesaikan dengan logik bukan politik.

Reaksi ada karena aksi.

Saya akui bahwa saya adalah pemberontak. Dan saya yakin naluri pemberontak ada pada tiap orang. Yang membedakan hanyalah cara mengekspresikannya dan sejauh mana kita berani memperjuangkan hal yang kita yakini — dengan segala konsekuensinya.

Pemberontakan punya alasan. Punya dasar. Dan perlu digarisbawahi, pemberontakan versi saya bukan semata-mata agar segala hal diwujudkan dengan cara saya. BIG NO. Kalau saya cuma mau memuaskan keinginan sendiri, apa bedanya dengan masturbasi?

Saya idealis tapi realistis.

Terlepas dari itu, tak terasa sudah tujuh bulan saya bergabung di tim pengembang. Dan selama itu, suka atau tidak, kita saling mengobservasi satu sama lain. Saling mendegarkan pujian dan keluhan. Saling merekam aksi dan reaksi. Dan mencatat semuanya menjadi poin-poin penilaian, demi objektifitas.

Dan, pada akhirnya, tanggal 20 nanti adalah hari terakhir saya disini. Pemberontakan saya gagal total. Karena tampaknya hanya saya yang gaya pemberontakannya ekspresif.

Sebagai penutup. Pemberontakan saya jadi terkesan culun di atas kertas. Tulisan ini bukan dibuat untuk diskredit siapapun. Semua hal yang layak saya kenang, layak dibuatkan blog post.

Cheers without beers,
Leonardo (Oct 12 2011)

Leadership vs Leadershit

People don’t buy what you do; they buy why you do it.

Below is a TED’s I favour the most. Can’t recall how many times I’ve been share this over and over again since the first time I saw it.

Question is: how do people manage to work only for paycheck? -_-

Curhatan yang berbobot

Saia muak dengan seorang ARB dgn kelepastanggungjawabannya atas Lapindo.

Saia muak dengan TVOne yang lebih sering memprovokasi rakyat ditambah lagi itu milik si ARB.

Saia muak dengan sinetron-sinetron yang sama sekali tidak mendidik.

Saia lebih banyak tidak sukanya dengan acara-acara tv. Sampai akhirnya saia muak dengan benda bernama televisi.

Berlebihan? So what?!
Tapi saia bisa apa?

Saia hanya berusaha mencari tau figur yang akan saia pilih sebagai pemimpin kedepannya, saia provokasi keluarga saia untuk tidak lagi menonton TVOne, Saia berusaha mencari dasar pengetahuan agar saia bisa berpendapat tanpa perlu menyalahkan.

Sumber: http://aiwulfric.wordpress.com/2011/09/01/berbeda-itu-wajar/

…jadi malu dengan curhatan gw yang sama sekali tak bermutu.

Between you, me, the new year, and human capital

Someone over StartupLokal’s mailing list asked how much does startup development cost. I stumbled upon reply made by this guy named Roni Ishak.

I unethically copy-and-pasted the reply he made here for viewing pleasure:

Hmmm, I have issues with that list, because I really believe coding is something worth investing in. Gini deh,

For a developer/coder, you can have them write a specific function that does the same thing. While a junior level coder can perhaps write code in 20 lines, a senior coder might be able to do it in significantly less lines of code. Experienced coders can write code more efficiently, and it pays off in the long term.

In the past I’ve been criticized by other development companies for overpaying my developers (especially in the BlackBerry development community). But you have to understand the real “role of gaji” in development.

High salary means less hijacking! It means attracting talent. It means people are comfortable to work. It means less time trying to find another job and focusing at the work at hand.

There’s a trick here tho. You should never need more that 1 senior coder per development team. In the case u need 2 highly skilled developers, hire a senior level coder and a junior coder. In most cases they help each other out and you will have 2 awesome devs.

QA

Junior – 3jt

Senior – 5jt

PHP devs, Sysadmins,

Junior 5-7jt

Senior 8-12jt

PM level 13+

BlackBerry, iPhone, Android

Junior 6-8jt

Senior 9-13jt

UI Designer/ HCI

10jt +

But it doesn’t stop there. Health insurance, Quarterly Book Buys from Amazon, Developers conferences (even to the US), seminars, classes, etc. I also let my employees freelance in their own time. Because a healthy company will grow together with the employees.

Most developers don’t work for a salary, but they work to find purpose. So have them believe in your ideas and vision and they will work their asses off for you. In most cases, that means working beyond 5pm if it means de-bugging for perfect code.

There have been developers that come to me begging for a job and also bringing source code from their previous company. That is not ethical, but it happens. This is Jakarta, the wild wild southeast. You don’t want your devs selling your source, so invest the time and money to develop a relationship with them.

I’ve even met people pitching me “ron, I can lower your development costs by 1/5″. And yea, there are developers sponsored through a government initiative that pays them a total sum of 1-2 juta per month for an android developer and locked with a 8 year contract. But its not ethical to hire these people.

In an IT company, developers are investments.

Its also very important that you find developers that have passion in their skill. Ask them what blogs they read. Because what separates a developer that codes “as a job” and developers that goes out of their way to know the latest SDK or technique is Passion.

Before hiring, learn all you can about Human Capital Management. Its methods of keeping your developers happy.

Hope it helps!

Sincerely,

Ronald Ishak

This guy, his comment in particular, successfully manage to interpret what’s in my mind. I can tell there’s a huge difference between this guy way of thinking than people who tend to thinks like “There are tons of developer out there who’re after job. Thus replacing one after another is how it works”.

“… they work to find purpose.” – hit me the most. I just can’t agree more.

In my humble opinion based on perspective as a developer, I could say that this is a leader type I’d love to work with. Leading is one thing. Giving purpose, is another thing.

Difference between leading and giving purpose is interesting. I’ll dig into these later.

Anyway. Its the last day of 2010. Happy new year!

Yayasan Permata Hati Bogor

Updated: semua informasi lebih lanjut tentang isu ini bisa dibaca di http://saveorphan.dagdigdug.com

Melahirkan di Panti Asuhan
Sebagian besar calon ibu yang melahirkan di panti asuhan adalah mereka yang memutuskan untuk tidak membesarkan calon anak mereka. Keputusan yang mereka ambil bisa berasal dari banyak hal, misalnya masalah keluarga, tekanan sosial, dan ekonomi.

Ada contoh kasus dimana seorang perempuan yang baru menjalani hamil dua bulan datang ke panti asuhan, dengan niat menyerahkan tanggungjawab perawatan calon bayinya ke pihak panti asuhan. Kita bisa simpulkan bahwa calon ibu tersebut berada dalam situasi dimana mereka merasa tidak ada orang lain yang bisa mereka andalkan. Dengan datang ke panti asuhan, justru kehamilan dirinya dimonitor dengan baik. Karena seperti kita tahu, kualitas calon bayi dipengaruhi kualitas hidup si calon ibu selama masa kehamilan.

Yayasan Permata Hati diduga Perdagangkan Bayi
Semua bermula dari keputusan seorang calon Ibu untuk melahirkan di panti asuhan. Dia mengaku tidak mampu membiayai proses persalinan, serta biaya merawat si calon bayi. Oleh karena itu dia memutuskan untuk melahirkan bayinya di panti asuhan serta menyerahkan/menitipkan calon bayinya untuk dirawat oleh panti asuhan.

Dua minggu setelah proses melahirkan, yang dilakukan melalui operasi caesar, si Ibu berubah pikiran dan memutuskan untuk membawa pulang bayinya. Akan tetapi pihak panti asuhan mempertanyakan kemampuan si ibu, karena sebelumnya si ibu menyatakan tidak mampu untuk membiayai perawatan si bayi.

Berdasarkan pernyataan terbarunya bahwa dia akan merawat dan membesarkan bayinya, pihak panti asuhan meminta si ibu untuk menutupi biaya persalinan sebesar sepuluh juta rupiah. Namun, si Ibu menolak untuk mengganti biaya persalinan tersebut.

Kenapa angka 10 juta bisa muncul?
Selain biaya persalinan yang memang harus ditimpakan ke si ibu karena keputusannya berubah, panti ingin memastikan bahwa si ibu memang memiliki keputusan yang solid, dan kemampuan untuk membesarkan bayinya. Panti juga memberi prasyarat agar bayinya menjadi tanggungjawab keluarga besar si ibu.

Belakangan si ibu melaporkan hal ini ke KPAI. Karena adanya parameter ‘uang senilai 10 juta rupiah’ pada isi laporan ke KPAI, muncul opini yang menilai bahwa pihak panti asuhan melakukan tindakan penjualan anak.

Efek dari opini yang muncul?

  • Seperti yang dikabarkan Antara News di Yayasan Permata Hati Diduga Perdagangkan Bayi”, aktivitas di panti ini dihentikan.
  • Masyarakat yang sebelumnya dengan sukarela memberi bantuan kepada panti asuhan tersebut melalui rekomendasi volunteer, mulai menyalahkan volunteers karena mereka merasa memberi bantuan ke panti asuhan yang salah. Semata-mata karena informasi yang tersebar saat ini.

Suatu masalah yang masih didalam konteks ‘diduga’, bisa menghasilkan kondisi sedemikian rupa. Tidak ada yang berusaha untuk memverifikasi informasi yang dimiliki.

Detailnya menunggu dari pihak volunteer yang akan memberi kesaksian.

Kondisi sesungguhnya di panti asuhan Yayasan Permata Hati
Menunggu detail dari volunteers.

Kenapa?
Kenapa saya merasa perlu untuk menyerukan ini? Saat ini saya tinggal dengan seorang volunteer, sekaligus kakak asuh, di panti asuhan yang dikelola Yayasan Permata Hati ini. Saya menyaksikan sendiri bagaimana mereka ini begitu perduli dan sayang kepada adik-adik asuh mereka.

Gw dengar, gw lihat, dan gw percaya apa yang dikatakan dia. Gw membantu dan mendukung mereka untuk menyuarakan keadaan yang sesungguhnya. Karena gw merasa informasi yang berkembang di media kurang lengkap.

Bantu kami menyelamatkan panti asuhan Yayasan Permata Hati beserta adik-adik tak bersalah disitu.