Monthly Archive for March, 2010

Diantara Die-hard fans, KOIL, dan Konser Metal Terbesar yang juga terbecek!

Diudag!

Diudag! (artinya: dikejar, diuber)

Setelah 2 tahun lamanya tidak melihat KOIL manggung secara langsung, akhirnya gw putuskan pergi ke Bandung untuk menyaksikan mereka di Konser Metal Terbesar (disponsori LA Lights) yang diadakan hari Minggu, 28 Maret 2010 lalu di Lapangan Saparua, Bandung.

Disclaimer: post kali ini berisi banyak sekali foto-foto yang gw ambil selama di Bandung. I’ve warned you :)

Continue reading ‘Diantara Die-hard fans, KOIL, dan Konser Metal Terbesar yang juga terbecek!’

True Colours

Hanging by a moment

Hanging by a moment

Hanging by a moment

Hitam Putih malah terasa lebih kaya warna. Perasaan jadi campur-aduk.

Hitam Putih malah terasa lebih kaya warna. Perasaan jadi campur-aduk.

Karena gw percaya bahwa kadang kita hanya perlu berhenti sejenak, dan melihat hidup melintasi waktu.

Diambil sesaat sebelum memutuskan berangkat ke kantor.

Date Time Original: 2010:03:17 09:27:28
ISO Speed Ratings: 200
Kamera canon EOS 350D
Lensa Canon EF-S 18-55mm F/3.5-5.6
Kecepatan 1/200
Diafragma f/5.6
‘Olah Digital’-Free

Cheers

Whatever comes around. Goes around.

So long, little dog.

So long, little dog.

Suatu kali, ketika gw SD, keluarga gw dikasi seekor bayi anjing. I aint a dog lover type, but I have to admit that I loved our little dog back then. Mungkin karena sayang, waktu itu kita terlalu memanjakan anjing kecil itu. Masuk-masuk ke rumah lalu meninggalkan jejak berlumpur disana-sini, jelas bisa memancing emosi.

Ada satu titik, dimana akhirnya bapak gw can’t controlled himself dan menendang anjing kecil kita ini. Layaknya seorang atlit sepakbola menendang bola. Waktu gw lihat itu, gw cuma bisa terdiam.

Tidak. Anjing kecil itu tidak mati.
Belum, tepatnya.

Anjing kecil itu masuk ke dimensi yang sering kita beri label ‘trauma’.
Trauma, dimanapun di bagian dunia ini, leads to one thing: stress.

Seekor anjing kecil yang tidak punya mahluk sejenis disekitarnya (orphan, yet alone), dihadiahi luka pula.

Setelah peristiwa penorehan luka itu, anjing kecil kita tidak mau makan. Tidak pernah mau masuk ke rumah. Dan, tidak pernah ceria lagi. Ga perlu menunggu lama, sampai akhirnya kita temukan anjing kecil itu tak bernyawa dibalik kain perca yang kita jadikan selimutnya.

Sejak itu, gw memutuskan untuk ga mau lagi pelihara-pelihara binatang dan jatuh cinta ke binatang.

-

Foto di awal post ini, bukan foto anjing kecil gw itu. Ini bayi anjing milik sepupu gw. Bayi anjing yang saat itu bahkan belum bisa membuka matanya untuk bisa menikmati jutaan kombinasi warna dan segala formula pantulan cahaya.

Beberapa hari setelah gw take foto ini, gw dapat berita bahwa bayi anjing ini sudah dipanggil pencipta.

Well. I do believe that God is the one who keep all the balance. Mungkin, Dia ga mau anjing kecil itu untuk melawan sadisnya dunia, jadi dia memutuskan untuk memanggilnya lebih awal.

Sengaja gw ga mau pakai istilah seleksi alam. God itself is the root of the universe.

-

Pelajarannya:
1. Apapun yang datang, pasti pergi. Whatever comes around, goes around.
2. For parents: think before do anything. Lo bisa aja menorehkan ‘luka’ yang ga lo sadari ke anak-anak lo. Untung aja gw sedari kecil emang smart, jadi gw bisa handle diri gw. *haha. najis*

Cheers.

Intip

So, I happened to have a digital camera. My sister did gave me a Canon EOS 350D. If I ran out of idea, I’ll post shots instead of texts. Hope you enjoy it.

Intip

Intip

Cheers,

Leonardo.