Monthly Archive for January, 2010

Untitled

Beberapa minggu yang lalu, gw makan malam di sebuah rumah makan Padang dekat kantor. Sambil menikmati makan malam, gw mengamati para pegawai rumah makan yang duduk menatap layar televisi, yang saat itu kanal TPI. Sesaat perhatian gw pindah ke televisi dan merasa déjà vu karena film yang ditayangkan sedikit-banyak mirip Avatar (James Cameron and his crew, 2009).

Film itu berjudul ‘Petualangan Bersama Suku Biru’ (PBSB) yang, segi cerita maupun visualisasi tokohnya, memang mirip Avatar. Gw kecewa, dan mikir “Kok ya kita tuh ga bisa berhenti njiplak. Dah njiplak, jelek pula hasilnya”.

Gw langsung pulang setelah makan malam gw habis.

-

Keesokan harinya gw menemukan sebuah link di twitter, Bellamy: Why Indonesia Won’t Beat Any Country Anytime Soon in Creativity, yang isinya, sesuai interpretasi gw, merupakan interpretasi bebas menghubungkan tingkat kreatifitas manusia di negara ini berdasarkan film ‘Avatar KW-2′ a.k.a PBSB.

Tak hanya itu, sesampainya di kantor ada beberapa rekan kerja yang sempat membahas film PBSB. Ternyata mereka membaca sebuah thread di Kaskus. Kok malah populer yah :D

-

Entah kenapa komentar-komentar yang muncul, yang disebabkan film PBSB ini, pedas banget. Apa iya memberi komentar yang begitu pedas merupakan salah satu bentuk aktualisasi diri, atau bahkan, intelektualitas? Gw rasa sih ngga.

Avatar yang super mewah itu dari awal sudah direncanakan tidak ditujukan untuk semua orang. Tidak berusaha untuk membahagiakan semua orang. Avatar adalah barang produksi sebuah industri yang sudah pasti punya target viewer yang jelas: masyarakat yang mampu nonton di bioskop kelas atas (yang bisa menikmati suasanya nyaman dan bangku empuk Blitz disertai popcorn dan pacar cantik dengan rok-mini, oh, okay, segment begini terlalu sempit. you get the idea).

Begitu juga dengan PBSB. Film ini ga berusaha untuk membahagiakan semua orang. BIG NO. PBSB ini tahu betul posisi mereka sejak mereka memutuskan ‘menjiplak’.

Pada saat gw melihat film PBSB, gw kecewa. Tapi ga lebih dari itu. Kenapa? Karena dengan film itu banyak orang bisa melanjutkan hidup (katakanlah kru film dan keluarga mereka), dan lebih banyak lagi yang bisa terhibur: seantero penonton TPI dan kru rumah makan Padang tempat gw makan malam.

Come on, people. Coba deh, sesekali berpikir di luar dari sudut pandangmu. Tempatkan dirimu di orang lain. Di kelompok lain.

Some people is not as much as lucky as we are, like I am not as much as lucky as you.

Gw bukan mencoba membela sisi jiplak-menjiplaknya. Itu benar-benar tidak kreatif. Yang salah tetap salah. Yang jelek tetap jelek. Tetapi, berusaha terlihat benar hanya dari satu sudut pandang, menurut gw kurang tepat. Apalagi dengan komentar negatif yang hanya mampu mematikan kreatifitas itu sendiri. Ask yourself.

ps:
I entitled the note with ‘Untitled’ in a purpose: to show you guys that I lack the creativity itself. Well, shame on me then.

Salah

begitu mudahnya kalian memberi gw label ‘buruk’, hanya karena kalian menerima input dari satu arah yang belum tentu kalian kenal baik.

Rumah Dara (Macabre): a review

“Disturbingly entertaining till the very last drop of blood” adalah kalimat yang paling tepat untuk mewakili film ini. Bukan tanpa alasan.

Judul: Rumah Dara
Sutradara: MO Brothers (Timothy Tjahjanto dan Kimo Stamboel)
Produser: Delon Tio (Nation Pictures and Merah Production)
Genre: Action Survival Thriller
Rate: 4.5 out of 5

Rumah Dara (Macabre) www.rumahdara.com

Rumah Dara (Macabre) www.rumahdara.com

Film ini menceritakan pengalaman enam orang muda-mudi: Ladya, Adjie, Astrid, Alam, Eko, dan Jimmy. Astrid adalah ibu hamil yang merupakan istri Adjie. Sedangkan Ladya adalah saudari dari Adjie. Cerita bermula di sebuah cafe di Bandung ketika Adjie akan pamit ke Ladya karena akan pindah ke Australia. Saat akan pulang ke Jakarta, mobil mereka ‘dicegat’ seorang perempuan bernama Maya. Cuaca buruk membuat keenamnya memutuskan untuk membantu mengantar Maya pulang ke rumahnya, ke Rumah Dara.

-

Jujur aja gw bukan penggila film, baik itu film lokal maupun internasional. Gw cenderung menonton film berdasarkan review orang lain. Begitu juga yang terjadi ketika gw melihat hype yang muncul di Kaskus dan Twitter untuk film Rumah Dara ini.

“Sebagus apa sih film ini?” adalah kalimat pertama yang terlintas dipikiran ketika film mulai diputar. Yang ternyata gw dapat jawabannya setelah keenam tokoh film ini masuk ke dalam Rumah Dara, titik pusat lingkaran setan.

Film ini serasa punya tangan yang menahan hidung dan mulut penontonnya sehingga susah untuk bernafas, sekaligus menyuntikkan kengerian dengan dosis yang terus meningkat secara perlahan dan konstan. Membawa penontonnya menduga-duga, bertanya ke diri sendiri: “habis ini pakai alat apa lagi yah?”

Selain deretan artis terkenal, ada dua-setengah VJ MTV (Arifin sempat mengikuti MTV VJ Hunt, tapi dikalahkan oleh Daniel) yang tampil dengan akting memuaskan. Khususnya Arifin yang berperan sebagai Adam, sang tokoh antagonis, dirinya berhasil membawa citra pembunuh berdarah dingin sesungguhnya. Benar-benar mengingatkan kita ke tokoh Hannibal Lecter muda di Hannibal Rising (2007): kalem, mematikan, emotion-less.

Shareefa Daanish sebagai pemeran tokoh Dara mendapatkan penghargaan Aktris Terbaik di PiFan (Puchon International Fantastic Film Festival) untuk film ini, jadi tak perlu diragukan lagi level ekstrim-nya.

Kalau kalian seperti gw yang suka menebak alur dan sebab-akibat, kalian akan puas sekali (at least i did), karena film ini benar-benar tak terduga. Sutradara dan penulis cerita-nya berhasil memprediksi dan memanipulasi pikiran penonton. Membimbing kita melalui labirin dengan tembok yang penuh darah dan teror.

Meskipun film yang begitu menarik ini sarat dengan sensor, gw ga cukup insane untuk melewati teror yang disajikan dua kali. I’ve had enough of it. Biarlah gw menunggu rilisan terbaru mereka, yang katanya akan rilis di tahun ini juga.

Sebuah simbolisasi yang gw tangkap di film ini, yang menjadi pelajaran utama, adalah mahalnya harga yang harus dibayar untuk sebuah kehidupan. Film ini juga mengingatkan gw untuk menghargai deadline. Oke, yang terakhir ini bukan excuse gw doang. Kalian akan mengerti kenapa ‘menghargai deadline’ menjadi pelajaran yang cukup penting setelah menonton film ini.

Cheers.

SIFR Flash overlapping problem

wmode should be change into ‘transparent’, one can achieve this by add/modify the sIFR.replaceElement parameters into something like this: sIFR.replaceElement(named({sWmode:”transparent”}));

GNU/Linux man pages

somename(1) berarti halaman manual dengan judul somename pada bab 1. :)